
Sekitar 20% pelari pernah mengalami cedera di sekitar lutut akibat radang tulang rawan. Gejala utama adalah nyeri di sekitar tulang tempurung lutut. Pada awalnya nyeri akan terasa ringan, terasa saat berlari, kemudian meningkat secara bertahap saat berlari atau bahkan saat istirahat.

Meskipun cedera bahu pada atlet sepak bola atau orang umum tidak sebanyak cedera lutut dan pergelangan kaki, cedera ini tetap bisa terjadi. Oleh karena itu, jika mengalami cedera parah yang menyebabkan robeknya ligamen bahu, penting untuk menemui dokter agar segera mendapatkan perawatan. Saat ini, operasi arthroscopy dapat memperbaiki ligamen di sekitar bahu yang robek sehingga dapat berfungsi dengan baik kembali.

Salah satu cedera yang paling umum dialami oleh atlet sepak bola setelah pergelangan kaki adalah robeknya ligamen cruciatum anterior (ACL) pada lutut. Cedera ini juga bisa terjadi pada orang biasa jika mereka berolahraga atau melakukan aktivitas yang melibatkan gerakan memutar tubuh dan kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh. Pengobatannya memerlukan waktu beberapa bulan. Jika terjadi kelainan atau mencurigai bahwa ligamen cruciatum anterior pada lutut robek, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Salah satu kebanggaan utama Institut Kedokteran Olahraga dan Latihan Bangkok BASEM Rumah Sakit Bangkok dan seluruh rakyat Thailand

Pro Mo - Moriya Jutanugarn meraih gelar LPGA pertamanya dalam karirnya dengan sukses di ajang HUGEL-JTBC LA Open di Amerika Serikat. Sebelum mengikuti kompetisi ini, Dokter Tong - Dr. Pornthep Mamanee, Direktur Institut Kedokteran Olahraga dan Latihan (BASEM) Rumah Sakit Bangkok telah memberikan perawatan secara intensif.

Kecelakaan lalu lintas dianggap sebagai masalah besar di tingkat global yang menyebabkan patah tulang. Patah tulang bukanlah perkara kecil, karena meskipun terkadang tidak mengancam jiwa, perawatan yang tidak tepat dapat menyebabkan kecacatan permanen.

Penyakit osteoporosis dapat ditemukan pada semua jenis kelamin dan usia, dan lebih umum seiring bertambahnya usia. Namun, jika kita mengetahui apa saja faktor risiko osteoporosis, kita dapat menghindari atau mengatasinya dengan mengubah perilaku kesehatan, serta membantu mencegah atau mengurangi tingkat keparahan osteoporosis.