Rumah Sakit Bangkok
Caret Right
Search
CTA Curve
Temukan dokter icon
Temukan dokter
Buat janji temu icon
Buat janji temu
kontak icon
kontak
telepon undefined
Menu
  • Pilih rumah sakit

  • Language

Doctor not found
Doctor not found
Doctor not found
Doctor not found
Rumah Sakit Bangkok
Ikuti beritanya
Lihat Google Maps
    Kebijakan Privasi

    |

    Kebijakan Cookie

    Copyright © 2026 Bangkok Hospital. All right reserved


    Jaringan Rumah Sakit Bangkok
    MEMBER OFBDMS logo

    Jangan biarkan anak menjadi pemarah dan tidak bisa mengendalikan amarah.

    5 Menit untuk membaca
    Informasi oleh
    Package Image
    Dr. Chollapat Chaturongkul

    Bangkok Hospital Headquarter

    Diperbarui pada: 11 Dec 2025
    Dr. Chollapat Chaturongkul
    Dr. Chollapat Chaturongkul
    Bangkok Hospital Headquarter
    Jangan biarkan anak menjadi pemarah dan tidak bisa mengendalikan amarah.
    AI Translate
    Translated by AI
    Bangkok Hospital Headquarter
    Diperbarui pada: 11 ديسمبر 2025

    Kemarahan pada anak muncul ketika mereka tidak bisa melakukan sesuatu atau dihalangi untuk melakukan hal yang diinginkan. Ekspresi kemarahan bervariasi sesuai dengan usia dan fase perkembangan anak. Jika anak menunjukkan kemarahan dan agresi yang meningkat, seperti melempar barang, menyakiti teman atau orang lain, orang tua harus mengajarkan cara mengelola kemarahan kepada si kecil dan berkonsultasi dengan dokter ahli untuk mengendalikan kemarahan anak agar tetap dalam tingkat yang normal.

     

    Faktor-faktor Penyebab Kemarahan

    Faktor utama yang menyebabkan anak tidak dapat mengendalikan kemarahannya meliputi:

    1. Kondisi fisik seperti penyakit, misalnya ADHD, bipolar, autisme, dan lain-lain. Selain itu, struktur otak dan ketidakseimbangan tingkat neurotransmiter dapat membuat anak mudah marah, mudah tersinggung, dan depresi.
    2. Faktor psikologis termasuk kondisi emosional alami anak, seperti pemarah, emosional, kurang sabar, dan lain-lain.
    3. Lingkungan seperti pola asuh, misalnya anak yang tumbuh di keluarga yang menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, orang tua yang emosional, dan lainnya. Selain itu, paparan konten kekerasan di media juga dapat mempengaruhi kemarahan anak.

     

    Daftar Periksa Kemarahan yang Perlu Diperhatikan

    Si kecil mungkin tidak bisa mengendalikan kemarahan dan menunjukkan perilaku agresif sejak usia 1 tahun. Orang tua dapat mengamati gejala kemarahan yang tidak biasa pada anak, seperti:

    • Mencubit
    • Menarik rambut
    • Mendorong dengan kasar
    • Sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkan orang lain
    • Melempar barang
    • Kemarahan yang membahayakan dan mengamuk
    • Berguling-guling
    • Menangis selama berjam-jam
    • Menampar orang tua atau menyakiti pengasuh, seperti babysitter
    • Memukul atau menyakiti teman di sekolah dan orang lain

     

    Menghadapi Anak yang Marah

    Dalam kasus anak yang tidak bisa mengendalikan kemarahannya, bisa dibagi menjadi 2 tipe:

    1. Anak yang marah dengan cara yang dapat dihadapi adalah anak yang dapat ditenangkan atau didampingi oleh orang tua serta diajarkan cara mengelola kemarahannya.
    2. Anak yang marah dengan cara yang tidak dapat dihadapi adalah anak yang ketika marah bisa menyakiti orang tua atau orang di sekitar, seperti menggigit dan mencubit hingga luka.

     

    Perawatan Kolaboratif

    Jika orang tua tidak dapat menghadapi anak yang tidak bisa mengendalikan emosinya, cara terbaik adalah berkonsultasi dengan psikiater anak dan remaja yang ahli untuk mendapatkan perawatan yang tepat, yang meliputi:

    • Mengambil riwayat, memeriksa kesehatan emosional dan perilaku anak serta orang tua Jika lingkungan sekitar tenang dan normal namun anak marah secara berlebihan, kita harus segera mempertimbangkan penyakit yang mungkin terjadi pada anak untuk mencari penyebab yang sebenarnya.
    • Bekerja sama dengan anggota keluarga Mengetahui kekuatan, kelemahan, dan kerentanan anak, dan bersedia untuk berubah bersama-sama di bawah pengawasan dokter.
    • Mengonsumsi obat-obatan Jika gejala akibat kemarahan anak tidak membaik, konsumsi obat mungkin dapat membantu memperbaiki kondisi anak sebesar 70 – 80%. Kecuali jika orang tua memiliki emosi dan perilaku yang menyebabkan anak kehilangan semangat, efek obat hanya akan sebesar 30 – 40% saja.

     

    Penyebab Kekerasan yang Perlu Diketahui

    Sangat beragam penyebab yang membuat anak tidak dapat mengendalikan kemarahan, sebagian besar berasal dari pengalaman kekerasan yang dialami oleh anak, yang berasal dari 4 kelompok besar:

    1. Sebab internal keluarga meliputi orang tua yang masih muda kurang sabar terhadap ekspresi anak, hubungan rumah tangga yang tidak harmonis, masalah sosial ekonomi, kurang pemahaman tentang perilaku anak, masalah kejiwaan seperti paranoia atau depresi, tekanan dan stres terhadap anak yang harus dijaga sepanjang waktu dan kurang istirahat, harapan yang terlalu tinggi terhadap anak, dan penolakan terhadap anak.
    2. Sebab dari anak sendiri meliputi bawaan emosional, anak yang sulit diasuh, sangat aktif, dan perkembangan psikologis dan perkembangan yang tidak sesuai usia.
    3. Sebab dari lingkungan, ekonomi, dan krisis meliputi kemiskinan, lingkungan yang penuh kekerasan sehari-hari, hambatan sosial dan ekonomi yang mengarah pada penggunaan kekerasan dalam keluarga, dampak dari ketegangan dan krisis dalam keluarga, serta keluarga yang berada dalam komunitas dengan tingkat bantuan sosial yang rendah.
    4. Sebab dari pengelolaan pendidikan yang tidak memadai pada usia pra-sekolah yang menyebabkan tekanan emosional, seperti mempercepat proses belajar anak yang tidak sesuai dengan usia.

     

    Mengajarkan Anak Mengelola Kemarahan

    Mengajarkan cara mengelola kemarahan kepada anak adalah hal penting yang harus diperhatikan oleh orang tua agar anak dapat tumbuh dengan baik dan hidup dalam masyarakat dengan bahagia. Ini dapat dilakukan dengan langkah berikut:

    • Orang tua menjadi contoh yang baik bagi anak Saat orang tua marah, diamlah atau menarik diri terlebih dahulu hingga merasa rileks, lalu berbicaralah dengan orang di sekitar dengan lembut. Lakukan hal ini secara teratur agar anak dapat menyerap contoh yang baik tentang cara mengelola kemarahan.
    • Biarkan anak belajar mengelola sendiri dan baru kemudian menjelaskan Jika anak marah tidak terlalu parah, seperti cemberut, menangis, atau menggerutu, biarkan dia menyendiri sampai tenang. Setelah itu, ajukan pertanyaan tentang perasaan mereka dan beri kesempatan untuk mengungkapkan ketidakpuasannya. Orang tua harus mendengarkan tanpa menghakimi, membantu anak mengetahui dampak dari tindakannya, mengajarkannya meminta maaf dan memberi tahu cara mengelola kemarahan yang tepat untuk situasi berikutnya, serta cara lain untuk mengekspresikan ketidakpuasannya tanpa kekerasan. Misalnya, saat marah, ajarkan untuk menjauh dari konflik, menenangkan diri, dan mencari tempat sepi atau bermain musik, olahraga, atau bermain dengan hewan peliharaan.
    • Pahami kemarahan anak Saat melihat anak marah, orang tua harus memberi tahu anak bahwa kemarahannya adalah hal normal. Semua orang berhak marah, tetapi anak harus belajar menenangkan diri terlebih dahulu. Mengalihkan perhatian adalah cara yang tepat, dan ketika anak sudah lebih tenang, biarkan mereka memutuskan cara terbaik untuk mengelola sisa kemarahan yang ada, dengan didampingi orang tua.
    • Untuk perilaku marah yang sangat parah, segera konsultasikan ke psikiater Jika anak menyakiti diri sendiri, orang lain, dan benda-benda di sekitar, segera hentikan mereka dan temui psikiater anak dan remaja.
    • Berdiskusi tentang kekerasan di masyarakat Konten kekerasan sering muncul di media seperti berita atau sinetron. Orang tua harus menjelaskan alasannya kepada anak dan mendengarkan pendapat mereka untuk memberikan bimbingan yang sesuai.


    Karena kemarahan adalah sesuatu yang dapat terjadi pada semua usia, terutama pada anak-anak yang dalam fase belajar, orang tua harus mengajarkan cara yang tepat untuk mengelola kemarahan agar si kecil bisa mengendalikan emosi dengan bijak dan tumbuh dengan kualitas baik.

      

    Informasi oleh

    Doctor Image

    Dr. Chollapat Chaturongkul

    Child and Adolescent Psychiatry

    Dr. Chollapat Chaturongkul

    Child and Adolescent Psychiatry

    Doctor profileDoctor profile

    Informasi kesehatan

    Lihat informasi kesehatan lainnya

    Informasi kesehatan

    Bagaimana anak-anak prasekolah belajar dengan bahagia Image
    AI
    Bagaimana anak-anak prasekolah belajar dengan bahagia
    Grup Taman Kanak-Kanak Rumah Sakit Persiapan Sebelum Masuk Prasekolah Untuk anak-anak yang memerlukan perawatan khusus Image
    AI
    Grup Taman Kanak-Kanak Rumah Sakit Persiapan Sebelum Masuk Prasekolah Untuk anak-anak yang memerlukan perawatan khusus
    Membangun identitas sejak usia prasekolah dengan memperkuat perbedaan dan menciptakan keunggulan. Image
    AI
    Membangun identitas sejak usia prasekolah dengan memperkuat perbedaan dan menciptakan keunggulan.
    Lihat informasi kesehatan lainnya