
Langkah-langkah Pemeriksaan dan Pengobatan Penyakit Rongga Perut selama COVID-19
Pemeriksaan dan Pengobatan Penyakit Rongga Perut selama COVID-19
Pada masa penyebaran virus COVID-19 atau infeksi Coronavirus yang meningkat, setiap orang harus siap, waspada, dan melakukan pencegahan untuk mengurangi kemungkinan terinfeksi serta penyebaran penyakit. Namun demikian, insiden penyakit lain yang umum ditemukan dan kadang-kadang bersifat darurat tetap dapat terjadi seperti biasa, terutama penyakit bedah yang menunjukkan gejala abnormal seperti nyeri perut akut yang meliputi kolesistitis atau kolangitis akut, pankreatitis akut, apendisitis akut, dan kelainan lain yang sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat, misalnya sakit kuning (jaundice), adanya benjolan di rongga perut atau daerah selangkangan, dan sebagainya.
Gejala yang Menunjukkan Penyakit
Penyakit bedah yang ditemukan pada kondisi darurat biasanya ditandai dengan nyeri perut, di mana lokasi nyeri dapat mengindikasikan kemungkinan penyakit pada tahap awal sebagai berikut
-
Nyeri perut kanan atas atau di daerah epigastrium dapat disebabkan oleh kolesistitis atau kolangitis akut, pankreatitis akut, gastritis dengan komplikasi seperti perforasi lambung, dan lain-lain.
-
Nyeri perut kanan bawah dapat disebabkan oleh apendisitis akut, enteritis, hernia inguinalis yang tidak dapat direposisi (tercerna), dan sebagainya.
-
Sakit kuning (jaundice) biasanya berasal dari penyakit sistem saluran bilier, sebagian besar disebabkan oleh obstruksi saluran empedu, yang merupakan kondisi darurat yang harus ditangani karena dapat berkembang menjadi kolangitis akut yang kadang berat dan berpotensi fatal. Penyakit yang sering ditemukan dalam kelompok ini termasuk batu di saluran empedu, tumor pankreas, tumor pada saluran empedu, tumor hati, batu empedu besar yang menekan saluran empedu, dan lain-lain.
Langkah-langkah Pemeriksaan dan Pengobatan Penyakit Rongga Perut selama COVID-19
-
Pasien dapat berkonsultasi ke poliklinik rawat jalan seperti biasa, di mana rumah sakit menerapkan langkah-langkah perawatan dan skrining di setiap titik masuk–keluar rumah sakit.
-
Pasien yang berisiko terpapar atau memiliki gejala saluran pernapasan akan dipisahkan area pelayanannya dari pasien umum pada klinik khusus untuk memberikan rasa aman ketika datang ke Bangkok Hospital.
-
Pemeriksaan dan perawatan pasien berpotensi terpapar droplet (percikan) akibat batuk, bersin, atau percakapan dekat. Oleh karena itu, setiap dokter yang memeriksa harus menggunakan tindakan pencegahan droplet yang meliputi cuci tangan dan penggunaan alat pelindung seperti masker bedah (surgical mask), pelindung wajah (face shield) dan sarung tangan (gloves). Pasien juga disarankan memakai masker kain atau masker medis (face mask).
-
Jika pasien tidak memungkinkan datang ke rumah sakit, dapat memilih layanan konsultasi dokter secara online Bangkok Hospital Delivery—layanan konsultasi melalui telekonsultasi (melalui telepon atau video conference) disertai layanan pengambilan darah ke rumah untuk memudahkan pemeriksaan awal bila diperlukan, misalnya pemeriksaan darah untuk diagnosis.
Operasi Laparoskopi (Bedah Melalui Kamera) pada Masa COVID-19
Seperti diketahui, operasi laparoskopi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan operasi terbuka. Operasi laparoskopi dilakukan dengan membuat lubang di dinding perut berukuran 5–12 milimeter, yang dapat diperbesar apabila akan mengeluarkan sampel jaringan melalui rongga perut. Manfaat operasi laparoskopi antara lain luka lebih kecil, nyeri lebih ringan, masa pemulihan dan lama rawat inap lebih singkat sehingga mengurangi kemungkinan terpapar infeksi di rumah sakit. Pasien dapat kembali beraktivitas normal dan mandiri dalam waktu singkat, serta mengurangi kontak dengan orang lain yang berpotensi membawa penularan.
Pasien dapat menjalani operasi laparoskopi seperti biasa karena tim medis dan rumah sakit memiliki sistem proteksi standar dengan langkah-langkah operasi dan pengendalian infeksi di ruang operasi yang ketat, antara lain:
-
Perancangan ruang operasi untuk mengurangi penumpukan kuman
-
Sistem filtrasi udara di ruang operasi untuk memastikan udara bebas kuman sebelum masuk dan sistem sirkulasi yang secara berkala mengeluarkan udara yang mungkin terkontaminasi dari ruang operasi
-
Jika ada penghisapan asap dari rongga perut, digunakan filter udara yang efektif dalam menyaring virus untuk mencegah penyebaran, sehingga memberikan rasa aman bagi pasien dan petugas yang menjalani tindakan operasi
-
Pengendalian suhu dan kelembapan udara untuk membatasi pertumbuhan mikroorganisme
-
Prosedur pembersihan ruang, instrumen, dan peralatan operasi serta sterilisasi sebelum operasi dimulai
-
Ruang operasi terpisah untuk pasien yang terinfeksi guna mengurangi penyebaran infeksi
Pemulihan Pasien Pasca Operasi selama COVID-19
-
Pasien yang tidak terinfeksi selama masa pemulihan tetap menerima perawatan yang sesuai standar. Lama rawat inap mirip dengan kondisi normal; misalnya setelah operasi kantong empedu atau operasi usus buntu biasanya rawat inap hanya 2–3 hari tergantung tingkat keparahan penyakit dan komplikasi pasca operasi.
-
Pasien sebaiknya menjaga kesehatan dengan baik, termasuk pola makan, olahraga, dan pemeriksaan kesehatan setiap tahun serta selalu memantau adanya kelainan pada tubuh.
