Banyak orang mungkin tidak tahu bahwa stres atau kondisi emosional yang kuat dapat merusak jantung lebih dari yang dikira karena dapat menyebabkan fungsi jantung yang tidak normal dan mengalami kelemahan otot jantung akibat stres. Sebagian besar gejala ini berlangsung tiba-tiba dan sementara, tetapi bisa berakibat fatal hingga menyebabkan kematian. Oleh karena itu, penting untuk menangani stres dengan cara yang tepat dan menjaga jantung agar tetap sehat.
Mengenal Broken Heart Syndrome
Broken Heart Syndrome atau Stress Cardiomyopathy adalah kondisi kelemahan otot jantung akibat stres yang pertama kali ditemukan di Jepang dengan nama Takotsubo Cardiomyopathy banyak terjadi pada wanita paruh baya dengan keterkaitan dengan stres fisik (Physical Stress) atau stres mental (Mental Stress) yang menyebabkan otot jantung tidak berkontraksi dan menjadi lemah sementara. Bentuk jantung kiri bawahmembesar tidak normal dan menyerupai tempat menjebak gurita Jepang yang dapat menyebabkan gagal jantung mendadakdan kematian.
Pemicu Broken Heart Syndrome
Penyebabnya tidak diketahui secara jelas tetapi memiliki kaitan dengan berbagai faktor, termasuk:
- Stres dari berbagai masalah, seperti:
- Penyakit medis
- Kehilangan orang tercinta, perceraian
- Masalah pekerjaan, keuangan
- Kekecewaan berat
- Cedera berat
- Narkoba
- Dll.
Stres jangka pendek dan jangka panjang yang menumpuk menyebabkan penyempitan pembuluh darah, jantung berdebar tidak beraturan, dan bisa menyebabkan kekurangan pasokan darah ke jantung serta gagal jantung.
- Hormon Kondisi atau penyakit inibanyakditemukan pada wanita pascamenopause di mana hormon estrogen sudah tidak tersedia, membuat otot jantung cenderung lebih sensitif terhadap hormon yang berhubungan dengan stres (Stress Hormone) dalam tubuh, yang mungkin menyebabkan Broken Heart Syndrome.
Gejala Broken Heart Syndrome
- Sesak di dada
- Nyeri dada
- Sesak napas
- Kesulitan bernapas
- Pusing
- Tekanan darah rendah

Diagnosis
Diagnosis Broken Heart Syndrome dokter spesialis jantung akan mempertimbangkan gejala, riwayat stres, dan pemeriksaan laboratorium sebagai faktor penting, termasuk
- Riwayat medis
- Pemeriksaan darah
- Elektrokardiogram (ECG/EKG) pada pasien Broken Heart Syndrome menunjukkan grafik gelombang jantung yang tidak normal seperti pada pasien dengan penyumbatan arteri koroner mendadak
- Ekokardiogram (Echocardiogram) pada pasien Broken Heart Syndrome menunjukkan kontraksi ventrikel kiri yang tidak normal dengan kekuatan kontraksi yang menurun ventrikel kiri menjadi lemah
- Angiografi memeriksa arteri koroner (Coronary Angiography: CAG)
Pengobatan untuk Broken Heart Syndrome
Kondisi Broken Heart Syndrome banyakdirawat sebagai pasien rawat inap di rumah sakit. Gejalanya bisa berkisar dari ringan hingga berat. Jika tidak parah, dokter spesialis jantung akan memberikan pengobatan dengan obat. Untuk kasus yangparah dan mengalami gagal jantung, mungkin diperlukan intubasi dan alat bantu pernapasan. Stres sebagai faktor pemicu juga harus ditangani bersamaan. Berdasarkan laporan jurnal internasional, umumnya jantung kembali normal dengan kemungkinan kematian hanya sekitar 1% dan kemungkinan kambuh 2 – 5%
Pencegahan untuk Broken Heart Syndrome
- Cobalah untuk rileks, tidak stres, ubah perspektif, ganti pikiran, duduk meditasi
- Bicara dengan keluarga dan teman untuk membagikan cerita dan masalah, jangan memendam stres sendirian
- Jaga kesehatan yang baik dengan makan makanan bergizi, istirahat cukup, dan olahraga secara teratur
- Menikmati hidup dengan berbagai kegiatan seperti berwisata, memasak, berdarmawisata, menanam pohon, memelihara hewan, dll.
- Periksa kesehatan jantung selain pemeriksaan kesehatan tahunan, Anda juga harus memeriksa kesehatan jantung sesuai anjuran dokter spesialis jantung
Broken Heart Syndrome dapat kambuh lagi akibat stres. Cara terbaik adalah menjaga jantung agar tetap kuat, dan menanggapi setiap masalah dengan pengertian. Tangani stres dengan cara yang tepat. Jika mengalami gejala yang tidak normal, disarankan segera berkonsultasi ke dokter.






