Mengenal Osteoporosis
Osteoporosis adalah penyakit di mana kepadatan dan massa tulang menurun sehingga tulang menjadi lemah, rapuh, berubah bentuk, dan mudah patah. Pada beberapa penderita, osteoporosis dapat menyebabkan tinggi badan berkurang karena massa tulang terkikis. Akibat dari osteoporosis adalah meningkatnya risiko patah tulang, karena tulang tidak dapat menahan beban, benturan, atau tekanan.
Titik Risiko Patah Tulang Akibat Osteoporosis
Lokasi yang sering mengalami patah tulang akibat osteoporosis antara lain:
- Tulang belakang
- Pinggul
- Pergelangan tangan
- Lengan atas di area bahu
Gejala Osteoporosis
Karena osteoporosis seringkali tidak memiliki gejala peringatan, penderita biasanya tidak mengetahui bahwa mereka mengalami osteoporosis hingga terjadi kecelakaan yang mengakibatkan patah tulang. Gejala lain yang perlu diperhatikan dan diamati agar dapat mendeteksi dan mencegah osteoporosis termasuk:
- Nyeri punggung kronis
- Punggung bungkuk atau tulang belakang bagian atas melengkung
- Penurunan tinggi badan
- Tulang mudah patah akibat benturan ringan
Penyebab Osteoporosis
Tulang terdiri dari sel pembentuk tulang (Osteoblast) yang berfungsi untuk membentuk tulang baru dari kalsium dan protein selama proses pertumbuhan tubuh dan menggantikan bagian tulang yang aus. Di dalam tulang juga terdapat sel penyerap tulang (Osteoclast) yang berfungsi untuk merapuhkan jaringan tulang tua.
Osteoporosis terjadi akibat ketidakseimbangan antara kedua jenis sel tulang tersebut yang menyebabkan perapuhan tulang lebih banyak daripada pembentukannya. Penyebab utamanya adalah kekurangan kalsium dalam tubuh untuk proses pembentukan tulang atau adanya kelainan pada sel tulang.
Faktor Risiko Osteoporosis
Faktor risiko yang meningkatkan peluang terjadinya osteoporosis antara lain:
- Usia yang semakin bertambah, seiring bertambahnya usia, massa tulang akan menurun sehingga lebih rapuh dan mudah patah meskipun terkena benturan yang tidak terlalu kuat.
- Penurunan kadar hormon estrogen pada wanita saat memasuki menopause. Pada pria, risiko osteoporosis meningkat ketika produksi hormon testosteron berkurang.
- Genetik, memiliki riwayat keluarga dengan osteoporosis.
- Kelainan pada fungsi kelenjar dan organ seperti kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, kelenjar adrenal, ginjal, dan hati.
- Penyakit dan gangguan kesehatan seperti penyakit autoimun, radang sendi, kanker tulang.
- Asupan makanan yang kurang kandungan kalsiumnya atau konsumsi makanan yang mengganggu keseimbangan kalsium.
- Penggunaan obat-obatan tertentu yang mempercepat perapuhan atau mengganggu pembentukan tulang, seperti golongan steroid.
Komplikasi Osteoporosis
Ketika osteoporosis terjadi, masalah utama yang kerap menyertai adalah nyeri akibat kompresi tulang dan sakit punggung, yang membatasi gerakan dan mengurangi aktivitas sehari-hari, yang dapat menyebabkan depresi. Selain itu, jika terjadi benturan, risiko patah tulang tinggi, terutama patah tulang pinggul yang membuat pasien tidak bisa berjalan atau bergerak dengan mudah karena nyeri, harus duduk atau berbaring terus-menerus, meningkatkan risiko penyakit dan komplikasi serius yang dapat menyebabkan kematian seperti luka tekan atau infeksi pada sistem pernapasan dan kemih.

Mendiagnosis Osteoporosis
Diagnosis osteoporosis dapat dilakukan melalui wawancara medis dan pemeriksaan fisik, yang paling penting adalah pemeriksaan radiografi untuk mengukur kepadatan tulang. Proses ini memakan waktu singkat, dosis radiasi yang diterima tubuh selama pemindaian rendah, tidak menyebabkan sakit atau nyeri, dan merupakan metode yang sangat efektif dalam menilai kepadatan massa tulang, memungkinkan dokter merencanakan perawatan sejak tahap awal penyakit. Nilai kepadatan tulang (Bone Mineral Density atau BMD) orang normal lebih dari -1,0, sementara orang dengan tulang yang tipis (Osteopenia) memiliki BMD antara -1,0 hingga -2,5, dan penderita osteoporosis memiliki BMD kurang dari -2,5.
Perawatan Osteoporosis
Karena osteoporosis disebabkan oleh degradasi tulang yang disebabkan oleh banyak faktor, prinsip perawatan melibatkan stimulasi sel pembentuk tulang dan pengurangan aktivitas sel perapuh tulang. Ini meliputi pengobatan oral, suntikan, dan peningkatan hormon, sebagai berikut:
● Pengobatan terdiri dari obat oral dan suntikan, yang dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu obat yang menghambat perapuhan tulang dan obat yang merangsang pembentukan tulang baru.
Pencegahan Osteoporosis
Osteoporosis dapat dicegah dengan menjaga kesehatan dan memperkuat tulang, termasuk:
- Konsumsi makanan yang tinggi kalsium dan vitamin D
- Menghindari merokok
- Menghindari alkohol, minuman bersoda, teh, kopi, atau minuman yang mengandung kafein dan memiliki tingkat keasaman tinggi
- Berolahraga secara rutin
- Menjaga berat badan agar tetap dalam rentang yang sehat
- Berhati-hati dalam penggunaan obat-obatan, terutama steroid yang digunakan dalam jangka waktu lama






