Mengenal Osteoporosis
Osteoporosis adalah penyakit yang melibatkan pelapukan terus-menerus jaringan tulang hingga menimbulkan risiko patah tulang. Sebenarnya, osteoporosis berarti penurunan kepadatan jaringan tulang yang menjadi lebih tipis, suatu proses yang terjadi selama bertahun-tahun tanpa disadari atau dirasakan hingga terjadi patah tulang atau kelainan bentuk lengkung tulang belakang akibat keruntuhan tulang dan tubuh yang secara jelas menyusut.
Pentingnya Osteoporosis
Osteoporosis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di negara ini. Tingkat kejadian patah tulang akibat osteoporosis meningkat setiap tahunnya. Sekitar 50% wanita dan 20% pria berusia di atas 65 tahun akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis dan mengalami rasa sakit yang menyengsarakan akibat patah tulang di daerah pinggul, tulang belakang, pergelangan tangan, lengan, dan kaki. Hal ini biasanya terjadi akibat jatuh, namun dapat juga disebabkan oleh aktivitas sehari-hari karena tulang yang rapuh dan mudah patah. Data penelitian menunjukkan bahwa patah tulang pinggul adalah kondisi serius yang merusak kesehatan fisik dan mental pasien dan orang sekitarnya. Mungkin memerlukan bantuan orang lain, atau setidaknya menggunakan alat bantu jalan untuk waktu yang lama, sekitar 50% mungkin memerlukan bantuan seumur hidup.

Faktor Risiko Osteoporosis
Meski saat ini belum dapat ditegaskan secara pasti penyebab dari osteoporosis, terdapat berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan osteoporosis, di antaranya:
- Usia
Secara alami, tubuh akan menyimpan kalsium dalam tulang untuk meningkatkan kepadatan massa tulang, dengan kepadatan tertinggi pada usia sekitar 30 tahun dan stabil antara 30-40 tahun. Massa tulang kemudian akan berkurang setiap tahun setelahnya hingga usia menopause pada wanita, di mana massa tulang menurun dengan cepat. Setelah usia 65 tahun, massa tulang menurun hingga mencapai titik risiko patah tulang.

- Genetika atau Keturunan
Ditemukan bahwa orang keturunan Kaukasia dan Asia (kulit putih dan kuning) memiliki risiko osteoporosis yang tinggi dan meningkat ketika ada riwayat patah tulang pada anggota keluarga lanjut usia atau pada orang yang secara alami bertubuh kurus.
- Status Gizi dan Gaya Hidup
Malnutrisi, kekurangan makanan, berat badan rendah, konsumsi kalsium dalam jumlah rendah, penyerapan kalsium yang buruk, kebiasaan mengonsumsi alkohol dan merokok, gaya hidup yang tidak aktif atau kurang berolahraga.
- Obat-obatan dan Penyakit Bawaan
Obat yang mempengaruhi osteoporosis termasuk steroid, obat terkait penyakit tiroid, diabetes, penyakit ginjal, dan lainnya.
Mencegah Osteoporosis
Oleh karena itu, penting untuk mengumpulkan sebanyak mungkin kalsium dalam tulang sebelum usia 30 tahun dan terus mengonsumsi kalsium dan vitamin D sepanjang hidup untuk menjaga kesehatan tulang dan mengurangi risiko patah tulang. Penting juga untuk berolahraga secara teratur di setiap tahap usia.
Kebutuhan Kalsium Berdasarkan Usia
Kebutuhan kalsium tubuh mungkin berbeda pada tiap usia dan kondisi tubuh, sebagai berikut:
- Usia 9 – 18 tahun : 1.300 mg per hari
- Usia 19 – 50 tahun : 1.000 mg per hari
- Wanita hamil dan menyusui : 1.000 – 1.300 mg per hari
- Usia lebih dari 50 tahun : 1.200 mg per hari
Makanan Kaya Kalsium
Makanan yang mengandung banyak kalsium termasuk:
- Sayuran hijau, seperti kangkung dan brokoli
- Susu dan produk susu
- Sarden dengan tulang
- Ikan kecil dengan tulang
- Udang kering
- Tahu keras
- Wijen hitam
- Terasi
- Lain sebagainya
Peran Vitamin D dalam Penyerapan Kalsium
Vitamin D membantu penyerapan kalsium dalam tubuh, dengan kebutuhan harian 200 – 600 unit. Segelas susu mengandung 100 unit vitamin D dan 300 mg kalsium. Jika merasa asupan kalsium dan vitamin D dari makanan tidak cukup, sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen.
Berolahraga Secara Teratur
Berolahraga secara teratur pada semua usia dapat membantu mencegah kehilangan massa tulang dan meningkatkan kekuatan fisik. Pilih jenis olahraga yang melibatkan beban tubuh, seperti menari, berjalan cepat, berjoging di jalan atau treadmill. Latihan keseimbangan untuk mencegah jatuh adalah cara yang baik untuk mengurangi insidensi patah tulang, seperti beberapa jenis Tai Chi. Namun, jika ragu, konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.
Diagnosis Osteoporosis
Ciri-ciri tubuh luar dapat menunjukkan adanya osteoporosis, terutama tulang belakang yang melengkung atau tinggi badan menurun secara signifikan, menandakan keruntuhan tulang belakang atau osteoporosis yang serius. Setelah menopause, wanita sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengalami osteoporosis, yang membutuhkan riwayat medis, pemeriksaan fisik, tes darah, dan alat-alat diagnostik lainnya, seperti:
- Pemeriksaan Sinar-X Tulang
Pada osteoporosis, struktur tulang tampak jernih dengan rongga tulang yang melebar dan garis tulang kasar terlihat jelas dengan tepi tulang berwarna putih. Pada beberapa kasus, patah tulang atau keruntuhan vertebra dapat terlihat.


- Pemeriksaan Kepadatan Tulang
Dengan alat khusus sinar-X, metode ini tidak menyakitkan dan dapat digunakan untuk memeriksa semua bagian tulang. Namun, lokasi pemeriksaan yang paling umum dan ditetapkan sebagai standar oleh WHO adalah tulang belakang bagian pinggang dan tulang pinggul.

Pengobatan Osteoporosis
Tulang merupakan struktur inti dalam tubuh yang degenerasi seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, penekanan pada pengobatan harus pada pencegahan. Selain itu, perhatian tetap harus diberikan pada asupan makanan dan olahraga secara teratur. Jika terjadi komplikasi yang memerlukan pengobatan, kerja sama dengan dokter dari berbagai bidang diperlukan termasuk pemberian obat, operasi, dan rehabilitasi.
Obat-Obatan untuk Osteoporosis
Obat yang digunakan untuk mengobati osteoporosis terdapat dalam beberapa kategori, tergantung kecocokan masing-masing kasus, termasuk:
- Hormon Wanita
Cocok untuk wanita yang mulai memasuki masa menopause, tersedia dalam bentuk tablet, krim, atau patch kulit. Hormon ini membantu mengurangi pelapukan massa tulang dan insidensi patah tulang. Namun, beberapa kelebihan dan perhatian dalam penggunaan hormon wanita harus dikonsultasikan dengan dokter kandungan terlebih dahulu. - Obat Hormonal Khusus untuk Tulang
Berbentuk tablet, obat ini bekerja hanya pada reseptor hormon untuk mempertahankan massa tulang, seperti di tulang belakang, tanpa efek pada rahim dan payudara, serta dapat mengurangi insidensi kanker payudara. Konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakannya. - Calcitonin
Satu lagi jenis hormon sintetis yang bukan hormon seks, tersedia dalam bentuk suntikan atau semprot hidung agar diserap melalui mukosa hidung, dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan massa tulang, terutama di tulang belakang. Harus dikonsultasikan dengan dokter sebelum digunakan. - Bisfosfonat
Terdapat beberapa obat dalam kategori ini, tetapi semuanya bekerja dengan menurunkan pengikisan kalsium dari tulang. Tersedia dalam bentuk suntikan atau tablet. Dapat dikonsumsi harian, mingguan, atau bulanan, mempengaruhi tulang pinggul dan tulang belakang, dengan aturan penggunaan dan efek samping yang harus diperhatikan. Harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu. - Strontium
Obat oral baru yang membantu mengurangi pengikisan massa tulang dan menambah massa tulang, konsultasikan dengan dokter sebelum digunakan. - Hormon Paratiroid
Obat injeksi baru yang disuntikkan subkutan setiap hari setidaknya selama 6 bulan untuk merangsang pembentukan massa tulang secara optimal, tetapi penggunaannya terbatas dan harus hati-hati, dokter akan meresepkan hanya untuk kasus tertentu.
Konsep Pengobatan Osteoporosis
Penggunaan obat-obatan yang sesuai dengan tiap pasien akan bermanfaat dalam meningkatkan massa tulang dan mengurangi insidensi patah tulang. Namun, pencegahan sebelum munculnya penyakit adalah kunci utama dalam menangani osteoporosis.



