Seringkali kita mendengar wanita mengeluh dengan berkata “Gemukkk..!” dan mereka berusaha menurunkan berat badan dengan berbagai cara, sehingga menjadi tren kesehatan yang populer, baik itu dengan pola makan bersih, diet ketogenik (Ketogenic Diet), puasa dengan cara Intermittent Fasting, latihan T25, berlari maraton, atau berlatih pilates untuk menjaga bentuk tubuh. Hal ini terjadi karena pelaku kesehatan dan fashion seolah-olah serentak mengatakan bahwa “kegemukan” ini adalah ancaman serius bagi kesehatan dan kecantikan!
Dalam dunia medis, seseorang yang dianggap mengalami “obesitas” adalah mereka yang memiliki keadaan tubuh dengan akumulasi lemak dalam jumlah yang tidak normal atau berlebih hingga memengaruhi kesehatan (WHO, 2013). Kondisi ini dianggap berisiko terkena penyakit serius seperti diabetes, hipertensi, dan lainnya, serta meningkatkan risiko kematian dini. Berdasarkan berbagai penelitian, obesitas termasuk salah satu penyebab utama yang membuat usia harapan hidup manusia menurun sekitar 5-20 tahun.
Kita semua tahu bahwa menurunkan berat badan bukanlah hal yang mudah. Jika ingin menurunkan berat badan secara berkelanjutan, hal ini seringkali memerlukan usaha yang bertahun-tahun sehingga banyak orang menyerah sebelum melihat hasilnya, atau berat badan kembali naik mengikuti pola efek yoyo yang sama buruknya bagi kesehatan. Beruntunglah bahwa ilmu kedokteran dan teknologi saat ini menawarkan pilihan bagi penderita obesitas untuk menurunkan berat badan secara berkelanjutan melalui operasi bariatrik (Bariatric Surgery), yang diakui secara internasional. Operasi ini merupakan salah satu metode yang membantu penderita obesitas mendapatkan kembali berat badan normal secara berkelanjutan. Berdasarkan data dari The American Society for Metabolic and Bariatric Surgery (ASMBS), operasi jenis ini semakin populer terutama di kalangan masyarakat yang tinggal di perkotaan di seluruh dunia karena operasi ini menghasilkan luka yang kecil, pasien mengalami sedikti nyeri, efek samping minimal, pemulihan cepat dan bisa pulang dalam 3-4 hari pasca operasi.
Selain membantu menurunkan berat badan secara berkelanjutan, operasi bariatrik juga dapat mengurangi risiko terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes mellitus serta menurunkan risiko terkena kanker secara signifikan (J Intern Med 2013;273:219-234).
Dari studi Swedish Obese Subjects (SOS) pada tahun 2007, yang merupakan penelitian prospektif, peneliti menyimpulkan bahwa operasibariatrik ini dapat mengurangi kematian akibat obesitas “dari segala penyebab” yang merupakan endpoint utama dari studi ini sebesar 29% selama 10,9 tahun (N Engl J Med 2007;357:741-752). Ini adalah faktor penentu bahwapengobatan bedah ini efektif dan berkelanjutan yang konsisten dengan beberapa hasil retrospektif lain, serta analisis meta yang menunjukkan “operasi bariatrik berkaitan dengan penurunan angka kematian akibat obesitas dari segala penyebab dalam jangka panjang” hingga 41% (Diabetes Obes Metab 017;19:1223-1232).
Pada akhirnya, “tidak gemuk” adalah berkah yang luar biasa!
Kita sering mendapatkan saran dari dokter spesialis dan ahli gizi untuk memilih makanan dari 5 kelompok pangan secara tepat dengan prinsip nutrisi yang benar dan rutin berolahraga untuk mencegah obesitas yang lebih baik daripada menurunkan berat badan setelah terjadi obesitas. Karena berdasarkan studi retrospektif baru-baru ini, meskipun penderita obesitas yang menjalani operasi bariatrik secara rata-rata hidup lebih lama 3 tahun dibandingkan penderita obesitas yang tidak menjalani operasi, (95% CI 1.8-4.2), namun tetap memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum dengan berat badan standar yang tidak mengalami obesitas (Gastroenterology 2019;157:119-127.e1).
Peneliti bermaksud untuk mempelajari tingkat kematian penderita obesitas yang menjalani operasi bariatrik dibandingkan dengan mereka yang tidak menjalani operasi, dan dibandingkan dengan individu tanpa obesitas*. Penelitian ini melibatkan pengejaran hingga rata-rata 24 tahun terhadap 3 kelompok peserta berikut:
- Kelompok penderita obesitas yang menjalani operasi bariatrik sejumlah 2.007 orang, dengan pengamatan selama rata-rata 24 tahun.
- Kelompok penderita obesitas yang tidak menjalani operasi bariatrik sejumlah 2.040 orang, kelompok kontrol dengan pengamatan selama rata-rata 22 tahun.
- Kelompok populasi umum sejumlah 1.135 orang, sebagai kelompok acuan (dengan body mass index [BMI] rata-rata 22 ± 3.8, tidak mengalami obesitas), dengan pengamatan selama rata-rata 20 tahun.
Tim peneliti menemukan bahwa dari kelompok 1, penderita yang menjalani operasi bariatrik, meninggal dunia sebanyak 457 orang (22,8%). Sementara dari kelompok 2, penderita yang tidak menjalani operasi, meninggal dunia sebanyak 539 orang (26,4%), dengan rasio hazard 0,77 (95% confidence interval [CI] 0.68-0.87; p<0,001). Namun, jika dilihat dari penyebab kematian ditemukan kematian akibatpenyakit jantung dan pembuluh darah dankanker lebih sedikit dari kelompok 2 yang tidak menjalani operasi dengan rasio hazard 0,70 (95% CI 0.57-0.85) dan rasio hazard 0,77 (95% CI 0.61-0.96) secara berurutan.
Dari studi ini, penyebab terbanyak dari kematian adalah penyakit jantung dan pembuluh darah (388 kematian dari total 996) dan kanker (301 kematian). Dapat dilihat bahwa kelompok yang menjalani operasi bariatrik memiliki kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah lebih sedikit secara signifikan (167 orang dibandingkan dengan 221 orang; rasio hazard 0,70), dengan penurunan Infark Miokard (MI) (rasio hazard 0,51; 95% CI 0,33-0,79), penurunan gagal jantung (rasio hazard 0,52; 95% CO 0,31-0,88) dan penurunan stroke (rasio hazard 0,45; 95% CI 0,24-0,84), serta ada penurunan kematian akibat kanker secara signifikan (135 orang dibandingkan 165 orang dalam kelompok kontrol).
Penting untuk mengingat bahwa kelompok peserta penelitian ini adalah individu dengan risiko yang lebih tinggi daripada orang obesitas secara umum, termasuk penderita diabetes dan hipertensi, sehingga hasil ini tidak dapat diterapkan dengan akurat 100% untuk individu dengan hanya obesitas. Keterbatasan lain dari studi ini adalah tidak dirancang sebagai penelitian acak karena kendala etika, dan teknik bedah serta teknologi medis berkembang terus menerus sejak dimulainya penelitian ini, sehingga manfaat yang diperoleh dari studi ini mungkin tidak jauh berbeda.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Operasi Bariatrik
Departemen Pencernaan dan Hepatologi
Telepon 052 089 782


