Saat ini, penggunaan endoskopi untuk memeriksa saluran empedu dan pankreas, bersamaan dengan operasi laparoskopi untuk mengobati batu empedu dan batu di saluran empedu, dapat dilakukan dalam satu sesi pengobatan. Metode ini memiliki berbagai keunggulan, termasuk mengurangi risiko dan jumlah pemakaian anestesi umum, memperpendek waktu pemulihan sehingga pasien dapat kembali ke kehidupan normal lebih cepat, mengurangi waktu rawat inap di rumah sakit, serta menekan biaya perawatan kesehatan.
Batu Empedu dan Batu di Saluran Empedu
Batu Empedu (Gallstone) adalah penyakit pada sistem saluran empedu yang cukup umum terjadi, di mana batu terbentuk akibat pengendapan kalsium atau kolesterol dalam empedu. Insiden pasien yang memiliki batu empedu dan ditemukan juga batu di saluran empedu tanpa gejala tambahan berkisar antara 6 – 12%, tetapi pada usia di atas 60 tahun, insiden ini dapat meningkat hingga 20 – 25%.
Penyakit batu empedu adalah penyakit pada sistem pencernaan yang dapat terjadi dan berbahaya jika tidak segera diobati. Umumnya, lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan pria, biasanya pada usia antara 30 – 50 tahun. Gejala yang dicurigai meliputi perut kembung, rasa sesak di perut, gangguan pencernaan, nyeri di bawah tulang rusuk atau bagian kanan atas perut, serta gejala kulit dan mata menjadi kuning bila batu empedu mengalir ke saluran empedu dan menyebabkannya tersumbat, terutama pada pasien usia lanjut.
Gejala dan Tingkat Keparahan
Gejala awal penyakit batu empedu umumnya tidak terlalu terlihat. Pasien yang menunjukkan gejala biasanya datang ke dokter dengan keluhan perut kembung, sesak perut, nyeri di bawah tulang rusuk kanan, tetapi jika kantong empedu terinfeksi, pasien bisa mengalami nyeri perut, mual muntah, dan demam tinggi.
Jika batu jatuh ke saluran empedu, bisa menyebabkan penyumbatan dan mengakibatkan penyakit kuning, mata dan kulit menjadi kuning, atau kolangitis akut (Acute Cholangitis). Dalam beberapa kasus, batu di saluran empedu bisa menyebabkan pankreatitis akut (Acute Pancreatitis).
Pasien yang menunjukkan gejala biasanya mengalami nyeri perut setelah makan sekitar setengah hingga satu jam, dengan rasa kembung dan nyeri di bawah tulang rusuk kanan hingga perut atas. Kadang-kadang nyeri menjadi sangat kuat hingga memaksa pasien pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan suntikan pereda nyeri.
Gejala mungkin mereda jika batu yang menyumbat area keluar kantong empedu mengalir kembali ke dalam kantong empedu, dan pasien akan merasa normal kembali setelah itu. Gejala ini adalah peringatan akan batu empedu (Biliary Colic), dan jika mengalami nyeri perut semacam ini berulang kali, ini bisa menyebabkan kolesistitis kronis (Chronic Cholecystitis). Namun, jika sumbatan batu berlangsung lebih dari 24 jam, ini dapat menyebabkan kolesistitis akut (Acute Cholecystitis).
Penyebab utama kolesistitis akut biasanya adalah batu empedu atau kotoran empedu (Biliary Sludge) yang menyumbat saluran kantong empedu (Cystic Duct), menyebabkan infeksi dan peradangan. Jika batu jatuh ke saluran empedu, ini dapat menyebabkan infeksi saluran empedu atau pankreatitis akut, dan jika infeksi dan peradangan menjadi parah, bisa menyebabkan sepsis yang mengancam jiwa.

Diagnosa
Untuk mendiagnosis batu di saluran empedu saat ini, dokter dapat menggunakan endoskopi ultrasonografi melalui sistem pencernaan, atau EUS (Endoscopic Ultrasound), yaitu endoskopi sistem pencernaan dengan menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi di ujung kamera untuk melihat lesi di bawah dinding lambung dan usus, serta organ lain yang mungkin tidak terlihat dengan endoskopi biasa, seperti tumor di hati, batu di saluran empedu, batu empedu, dan tumor di pankreas.
Jika batu ditemukan selama pemeriksaan, dokter dapat melakukan biopsi jarum real-time dengan bantuan ultrasonografi untuk memperoleh sampel jaringan guna memeriksa sel yang tidak normal, dan hasil biopsi biasanya memerlukan waktu sekitar 3 – 5 hari.

Endoskopi Saluran Empedu dan Pankreas (ERCP)
Teknik endoskopi lain yang digunakan untuk mengobati penyakit pada sistem saluran empedu dan pankreas adalah endoskopi saluran empedu dan pankreas, atau ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography). Metode ini terutama digunakan untuk mengobati penyumbatan saluran empedu atau penyakit kuning, seperti batu di saluran empedu, tumor di saluran empedu, atau di sekitar area yang menyumbat saluran empedu.
Jika ditemukan bahwa batu menyumbat di saluran empedu, dokter akan mengeluarkan batu menggunakan balon atau keranjang kawat kecil. Jika tumor ditemukan menekan saluran empedu, perawatan dilakukan dengan biopsi untuk dikirim ke laboratorium, serta penempatan stent empedu untuk mengurangi gejala penyakit kuning.
Komplikasi yang mungkin terjadi akibat endoskopi saluran empedu adalah pankreatitis akibat iritasi saluran pankreas, karena letaknya yang berdekatan dengan mulut saluran empedu, dengan insiden sekitar 3 – 5%. Namun, pankreatitis yang terjadi umumnya ringan dan gejala biasanya membaik dalam 1 – 2 hari dengan abstain dari makanan dan minuman, pemberian larutan infus, dan obat penahan sakit. Oleh karena itu, setelah prosedur ERCP, dokter biasanya menyarankan pasien untuk bermalam di rumah sakit untuk pengamatan minimal satu malam.
Persiapan untuk endoskopi EUS dan ERCP mirip dengan persiapan endoskopi lambung, yaitu tidak mengonsumsi makanan dan minuman selama 6 – 8 jam sebelumnya, menghentikan penggunaan obat pengencer darah 3 – 5 hari tergantung jenis obat, dan pasien dengan kondisi medis penting yang berkaitan dengan paru-paru atau jantung harus memberi tahu dokter lebih awal dan berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk menilai kondisi tubuh sebelum menjalani endoskopi.
Pengobatan Batu Empedu dan Batu di Saluran Empedu
Pengobatan pasien yang memiliki gejala batu empedu dan juga batu di saluran empedu atau dalam kasus penyakit yang kompleks, seperti pankreatitis akut (Acute Pancreatitis), penyakit kuning obstruktif (Obstructive Jaundice), atau kolangitis akut (Acute Cholangitis), dengan ditemukannya batu empedu, dokter mungkin merekomendasikan pengobatan dengan endoskopi saluran empedu dan pankreas (ERCP) dan operasi laparoskopi kantong empedu (Laparoscopic Cholecystectomy) dalam satu sesi jika diindikasikan dengan tepat.
Operasi laparoskopi kantong empedu menggunakan teknologi Advanced MIS (Minimal Invasive Surgery) dengan resolusi tinggi seperti 4K atau HD, memungkinkan dokter melihat kantong empedu, saluran empedu, dan organ lainnya dengan lebih jelas. Pasca operasi, luka operasi berukuran kecil, nyeri berkurang, risiko infeksi diminimalkan, dan pasien pulih dengan cepat setelah operasi.
Selain tim bedah laparoskopi dan tim spesialis penyakit saluran pencernaan yang menangani pasien, juga terdapat tim rehabilitasi medis, apoteker, dan ahli gizi yang bekerja sama dalam merencanakan pengobatan untuk setiap pasien (Multidisciplinary Team). Tim ini membantu menilai dan mempersiapkan pasien serta memberikan nasihat dan perawatan rehabilitasi setelah operasi untuk membantu pasien pulih dengan baik, misalnya dalam memilih jenis makanan yang tepat.
Pengobatan batu di saluran empedu dan batu empedu secara bersamaan, dengan menggunakan endoskopi saluran empedu (ERCP) dan operasi laparoskopi kantong empedu (LC), membantu mengurangi komplikasi yang mungkin terjadi jika ada jeda waktu dalam pengobatan, seperti penyumbatan saluran empedu atau infeksi ulang sementara menunggu operasi.
Pengobatan pasien dengan gejala batu empedu dan batu di saluran empedu dalam satu sesi membantu meminimalkan penggunaan anestesi umum berulang kali, meningkatkan kemungkinan keberhasilan pengobatan, mempersingkat durasi rawat inap, dan mempercepat pemulihan. Pasien dapat berjalan dalam 4-6 jam setelah operasi, serta menurunkan insiden pankreatitis dan komplikasi lainnya dibandingkan dengan pendekatan pengobatan yang terpisah.
Pencegahan batu empedu dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Pasien disarankan untuk mengurangi makanan gorengan dan berlemak, serta meningkatkan konsumsi sayuran dan ikan untuk mencegah gejala perut kembung. Penting juga untuk menjalani operasi laparoskopi untuk mengobati batu empedu oleh dokter yang berpengalaman dan tim multidisiplin yang berpengalaman untuk mencapai hasil pengobatan yang diharapkan. Selain itu, penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur setiap tahun dan memperhatikan ketidaknormalan pada tubuh. Jika ada gejala yang mencurigakan, sebaiknya segera bertemu dengan dokter, karena dapat menyebabkan penyakit berbahaya atau komplikasi lainnya di masa mendatang.






