Diabetes adalah penyakit kronis yang terkait dengan sistem metabolisme tubuh, menyebabkan tubuh tidak dapat menggunakan gula dengan efektif, sehingga kadar gula dalam darah meningkat. Meskipun tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, namun jika pasien mengontrol makanan dan mengubah perilaku kesehatan yang sesuai, maka dapat mengontrol kadar gula darah menjadi normal, membuat penyakit ini berada dalam fase tenang, tidak menunjukkan gejala, seolah sembuh dari penyakit tersebut atau disebut Remission. Jika pasien terus menjaga kadar gula darah dengan baik, mereka dapat mengalami keadaan tenang ini dalam jangka panjang, membantu dokter mengurangi atau menghentikan penggunaan obat untuk mengontrol kadar gula.
Mengubah Perilaku untuk Mengontrol Kadar Gula
Ada banyak cara untuk mengontrol kadar gula darah, tetapi yang paling penting adalah mengubah perilaku kesehatan seperti:
- Makan makanan kecil setiap 3-4 jam sepanjang hari untuk mencegah hipoglikemia (kadar gula rendah).
- Hindari makan terlalu banyak dalam satu waktu, karena dapat menyebabkan kadar gula tinggi.
- Menjaga berat badan agar tetap dalam kisaran normal (nilai BMI 18.5 – 22.9 kg/m2 untuk orang Asia, dan 18.5 – 24.9 kg/m2 untuk orang dari negara lain yang bukan Asia) membantu mengontrol kadar gula darah, mengurangi resistensi sel terhadap hormon insulin (Insulin Resistance) yang memungkinkan insulin membawa gula dalam darah ke dalam sel untuk dibakar menjadi energi. Oleh karena itu, pasien yang kelebihan berat badan atau obesitas dianjurkan untuk menurunkan berat badan 5% dari berat badan.

Mengubah Pola Makan
Mengubah pola makan dapat membantu mengontrol kadar gula darah dan menjaga berat badan yang terdiri dari:
- Batasilah konsumsi makanan karbohidrat seperti beras, tepung, roti, spageti, bihun, jagung, ubi, buah, dan berbagai minuman. Konsumsi dalam jumlah yang tepat setiap kali makan.
- Pilih karbohidrat kompleks yang kaya serat seperti beras dan tepung yang tidak dipoles, biji-bijian, dan sayuran. Namun, beberapa sayuran tinggi karbohidrat, seperti labu, tidak boleh dikonsumsi berlebihan.
- Konsumsi buah tidak boleh berlebihan setiap hari karena buah mengandung gula bernama Fructose yang ada di semua jenis buah, baik yang asam maupun manis. Dianjurkan untuk membatasi konsumsi 3-4 porsi per hari atau 1 porsi per kali makan. Contohnya, 1 porsi setara dengan 1 apel utuh, 1 pisang utuh, 6 potong melon.
- Hindari mengonsumsi jus buah jenis apapun karena tidak mengandung serat dan mengandung gula yang cukup tinggi. Serat dalam buah dapat menghambat penyerapan sebagian gula. Beberapa pasien mungkin pernah mendapat informasi bahwa sebaiknya pilih buah yang tidak manis dengan indeks glikemik rendah (Glycemic Index) tetapi yang sebenarnya lebih penting adalah mengontrol jumlahnya dengan tepat, karena meskipun mengonsumsi buah yang tidak manis dalam jumlah besar tetap dapat meningkatkan kadar gula dengan signifikan.
- Hindari makanan manis yang dapat mengurangi kadar gula darah secara signifikan karena gula pasir yang ditambahkan dalam makanan manis dapat diserap dengan cepat, sehingga kadar gula dalam darah akan meningkat dengan cepat.
- Hindari minuman yang tinggi gula seperti minuman bersoda, teh, kopi, yoghurt, dan susu dengan berbagai rasa, minuman herbal, dan lain-lain untuk membatasi asupan kalori atau mengontrol kadar gula dalam darah. Dianjurkan untuk menggunakan pemanis buatan (non-nutritive sweeteners) seperti aspartame, saccharin, sucralose, atau stevia sebagai pengganti gula putih atau gula merah. Pastikan membaca label nutrisi setiap kali sebelum membeli.
- Batasilah konsumsi alkohol tidak lebih dari 1 Drink untuk wanita dan 2 Drink untuk pria karena alkohol juga dapat meningkatkan kadar gula dalam darah. Jangan minum saat perut kosong karena dapat menyebabkan hipoglikemia atau gula darah rendah.
Dalam mengubah perilaku kesehatan dan pola makan, tidak ada satu formula atau metode yang cocok untuk semua orang (No One – Size – Fits – All). Oleh karena itu, disarankan agar setiap pasien bertemu dengan ahli gizi untuk mengevaluasi pengetahuan, pemahaman, dan status gizi, sehingga dapat menemukan cara yang tepat untuk mengubah perilaku kesehatan dengan menetapkan tujuan yang sesuai untuk setiap pasien.



