Saat anak tercinta sakit, salah satu hal yang paling sering membuat Ayah Bunda cemas adalah ketika melihat bahwaanak bernapas cepat tidak normal atau tampak terengah-engah lebih dari biasanya. Gejala ini bisa saja hanya merupakan mekanisme alami tubuh, atau bisa juga menjadi tanda peringatan adanya masalah pada sistem pernapasan yang tersembunyi. Artikel ini akan membantu Ayah Bunda memahami penyebab napas cepat (Tachypnea) pada anak, cara menghitung laju napas yang benar, serta rekomendasi perawatan awal agar si kecil tetap aman dan Ayah Bunda dapat menghadapinya dengan tenang.
Anak bernapas cepat disebabkan oleh apa? Penyebab yang membuatbayi bernapas kuat dan cepat

Secara umum, penyebab utama yang membuatbayi bernapas kuat dan cepat melebihi normal dapat dibagi menjadi 2 kelompok sebagai berikut
Penyebab dari mekanisme alami tubuh (tidak berbahaya)
Terkadang saat melihatbayi bernapas kuat dan cepat, hal tersebut tidak selalu disebabkan oleh kelainan, tetapi bisa merupakan respons alami tubuh, misalnya bayi sedang menangis keras, merasa sangat bersemangat/terkejut, atau pada anak yang aktif setelah berlari bermain atau berolahraga. Saat anak sudah beristirahat atau emosinya tenang, laju napas akan perlahan kembali normal dengan sendirinya.
Penyebab dari penyakit
Jika Ayah Bunda mengamati bahwa anak tidak enak badan dan bernapas cepat bahkan saat sedang duduk istirahat atau tidur, gejala ini sering disebabkan oleh kondisi sakit pada tubuh, seperti
- Infeksi saluran pernapasan: misalnya pneumonia (radang paru), bronkitis, atau infeksi virus RSV, yang menyebabkan saluran napas menyempit sehingga tubuh harus berusaha bernapas lebih cepat untuk mendapatkan oksigen
- Asma atau alergi: membuat bronkus sensitif terhadap pemicu, terjadi kejang/kontraksi dan menyebabkan sulit bernapas
- Demam tinggi: saat anak demam, laju metabolisme tubuh meningkat dan tubuh berusaha membuang panas, sehingga menyebabkananak bernapas kuat lebih cepat dan denyut jantung lebih cepat daripada biasanya ketika demam tinggi
Tabel kriteria laju napas normal anak berdasarkan usia
Karena anak pada setiap rentang usia memiliki fisiologi dan ukuran paru yang berbeda, laju napas pun tidak sama. Ayah Bunda dapat menggunakan kriteria di bawah ini untuk menilai adanya kelainan secara awal
|
Rentang usia anak |
Laju napas normal (kali/menit) |
Laju napas yang dianggap cepat tidak normal |
|
Bayi baru lahir – 2 bulan |
30 – 60 |
lebih dari 60 kali/menit |
|
Bayi usia 2 bulan – 1 tahun |
25 – 50 |
lebih dari 50 kali/menit |
|
Anak balita (1-3 tahun) |
20 – 40 |
lebih dari 40 kali/menit |
|
Anak usia 5 tahun ke atas |
15 – 30 |
lebih dari 30 kali/menit |
Cara mengamati kelainan saat anak bernapas cepat pada usia 0-3 tahun
Meski balita memiliki kriteria laju napas yang mirip, karena perkembangan dan kemampuan komunikasi yang berbeda, Ayah Bunda dapat mengamati kelainan dari perilaku anak pada tiap usia sebagai berikut
Bayi baru lahir – 1 tahun (amati dari menyusu dan cuping hidung)
Sistem pernapasan bayi pada usia ini bisa saja bekerja tidak stabil sejak awal. Tanda penting yang perlu diperhatikan adalah “menyusu”. Jika anak menyusu diselingi sering berhenti untuk terengah-engah, tersedak susu, atau ada suara erangan di tenggorokan, termasuk cuping hidung tampak mengembang-kempis jelas saat menarik napas, ini merupakan tanda bahwa bayi sedang bekerja lebih keras untuk bernapas daripada biasanya.
Usia 1 tahun (amati dari makan dan tidur)
Saat mengamati kondisianak bernapas cepat pada usia 1 tahun, anak pada usia ini belum bisa menyampaikan rasa sakitnya, sehingga perlu mengandalkan pengamatan perilaku dasar. Jika Bunda mendapati anak menyusu atau makan lebih sedikit, baru menyusu sebentar sudah harus berhenti untuk terengah-engah, atau rewel dan gelisah saat tidur disertai napas kuat, sebaiknya segera menilai laju napasnya.
Usia 2 tahun (bedakan terengah karena bermain vs sakit)
Pada usia yang mulai lebih lincah berlari bermain, saat mengamati kondisianak bernapas cepat pada usia 2 tahun, yang penting adalah membedakan antara terengah-engah normal setelah berlari bermain dengan terengah karena sakit. Triknya: minta anak berhenti beraktivitas dan duduk diam untuk beristirahat. Jika setelah 10–15 menit dada anak masih naik-turun dengan cepat, itu merupakan tanda yang perlu diwaspadai.
Usia 3 tahun (amati dari komunikasi dan bicara)
Anak pada usia ini mulai dapat menyampaikan kebutuhan dan perasaan dasar. Saat mengamati kondisianak bernapas cepat pada usia 3 tahun, selain menghitung gerakan dada, amati juga cara bicaranya. Jika anak mengeluh lelah, tidak bisa berbicara dalam kalimat panjang karena harus berhenti untuk terengah-engah di sela bicara, atau tampak lesu dan tidak ingin berlari bermain seperti biasa, itu bisa menjadi indikasi bahwa sistem pernapasan sedang bermasalah.
Cara menghitung laju napas anak dengan benar

Untuk menilai apakahanak bernapas cepat secara tidak normal, perlu menghitung dengan cara yang tepat agar mendapatkan data yang paling akurat
- Pilih waktu yang tepat: hitung saat anak sedang diam, emosinya tenang, tidak menangis; waktu terbaik adalah “saat anak sedang tidur”
- Cara menghitung: amati dada atau perut anak. Saat dada naik dan turun hingga selesai, hitung sebagai 1 kali. Gunakan pengukur waktu hingga tepat 1 menit penuh
- Hal tambahan yang perlu diketahui: pada bayi baru lahir hingga usia 1 bulan, dapat terjadi jeda napas singkat (tidak lebih dari 10–15 detik) bergantian dengan napas cepat. Pola ini disebut napas periodik yang tidak teratur pada bayi (Periodic Breathing). Umumnya ini dianggap mekanisme normal karena sistem kontrol pernapasan belum matang sepenuhnya. Namun bila anak berhenti bernapas lebih dari 20 detik, segera bawa ke dokter
Tanda penyerta seperti apa yang disebutanak bernapas kuat dan cepat hingga berpotensi berbahaya?
Jika terlihat bahwa anak bernapas kuat dan cepat disertai tanda peringatan berikut, sebaiknya segera bawa anak ke rumah sakit sesegera mungkin
- Dada tampak cekung (Chest Retractions) dengan memperhatikan saat anak menarik napas, area tulang rusuk, bawah tulang rusuk, atau di atas tulang selangka tampak tertarik masuk/cekung jelas, menandakan anak menggunakan otot bantu napas secara berat
- Ada bunyi mengi (Wheezing) seperti bunyi peluit saat menghembuskan napas, atau bunyi grok-grok yang terus-menerus meski sudah membersihkan ingus
- Bibir, kuku tangan, kuku kaki tampak kebiruan keunguan (Cyanosis) yang merupakan tanda kadar oksigen darah rendah
- Anak tampak lemas/lesu jelas tidak ceria, tidak mau minum susu, atau tidak bisa makan
Cara perawatan awal saatanak demam dan bernapas cepat
Jika anak disertai demam, Ayah Bunda sering akan mendapati bahwa anak akan terasa panas, bernapas cepat, dan jantung berdebar, yang merupakan mekanisme alami tubuh untuk membuang panas. Perawatan awal yang tepat dapat membantu memperbaiki gejala
- Kompres/menyeka tubuh untuk menurunkan demam: gunakan air hangat atau air suhu ruang untuk menyeka tubuh dengan cara yang benar, menyeka untuk membantu membuka pori-pori dan fokus pada area lipatan sendi guna membantu pelepasan panas
- Pemberian obat penurun demam: dapat mempertimbangkan parasetamol untuk anak dengan menghitung dosis sesuai berat badan (sebaiknya mengikuti anjuran dokter atau apoteker)
- Berikan minum sedikit-sedikit namun sering: untuk mencegah dehidrasi akibat suhu tubuh yang tinggi
- Pantau setelah demam turun: jika Ayah Bunda sudah menyeka tubuh dan memberi obat hingga demam anak turun, namun laju napas masih terengah-engah atau lebih cepat dari batas normal, segera bawa ke dokter anak untuk pemeriksaan dan diagnosis tambahan
Trik dari dokter: cara mudah mengamati gejala anak untuk Ayah Bunda

Agar komunikasi dengan dokter yang merawat lebih jelas dan akurat, Ayah Bunda dapat menggunakan trik sederhana untuk mengumpulkan data awal sebagai berikut
- Saat menghitung laju napas, sebaiknya angkat baju anak agar kulit area dada dan perut terlihat jelas untuk mengamati tarikan/cekungan dada
- Sebaiknya rekam video (durasi sekitar 30–60 detik) saat anak bernapas kuat, terengah-engah, atau ada bunyi grok-grok, untuk ditunjukkan kepada dokter anak sebagai bagian dari penilaian gejala, sehingga dokter dapat melihat gambaran yang paling jelas
Pusat Pediatri Bangkok Hospital siap merawat kesehatan pernapasan si kecil
Jika khawatir saat anak demam dan bernapas cepat, Pusat Pediatri Bangkok Hospital siap memberikan perawatan kesehatan anak secara menyeluruh. Layanan diberikan oleh tim dokter spesialis anak dan perawat profesional yang berpengalaman dalam merawat anak, serta siap melakukan pemeriksaan diagnosis dan pengobatan penyakit sistem pernapasan dan penyakit infeksi pada anak. Dengan lingkungan yang ramah untuk mengurangi rasa takut anak, disertai langkah-langkah keselamatan, agar si kecil kembali sehat, ceria, dan tumbuh sesuai usianya
Ringkasan artikel
Napas cepat pada anak dapat terjadi karena banyak faktor, baik mekanisme alami maupun penyakit. Saat melihat bahwaanak bernapas cepat ataubayi bernapas dengan bunyi grok-grok keras, Ayah Bunda sebaiknya tetap tenang, mengetahui cara menghitung laju napas yang benar, serta mengamati gejala lain yang menyertai. Jika anak demam, lakukan penyeka tubuh untuk menurunkan demam sebagai langkah awal, namun bila ditemukan tanda peringatan yang menunjukkan anak sedang kesulitan bernapas, segera bawa ke dokter. Pemantauan yang dekat adalah perlindungan terbaik bagi keselamatan anak tercinta
- Cari dokter: https://www.bangkokhospital.com/th/bangkok/doctor
- Buat janji: https://www.bangkokhospital.com/th/bangkok/appointment/step1
- Hubungi kami: https://www.bangkokhospital.com/th/bangkok/contact
Pertanyaan yang sering diajukan (FAQ) tentang gejalaanak bernapas cepat
1. Bayi bernapas dengan bunyi grok-grok tetapi tidak demam, disebabkan oleh apa?
Bisa disebabkan oleh ingus yang menyumbat rongga hidung, atau karena laring bayi belum berkembang kuat sepenuhnya (Laryngomalacia). Jika anak masih dapat menyusu dengan baik, tidur nyenyak, dan tetap ceria seperti biasa, umumnya tidak berbahaya berat, namun sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk memastikan
2. Anak bernapas kuat dan cepat hanya saat tidur, apakah tidak normal?
Jika anak baru menangis keras sebelum tidur, atau sedang berada dalam fase tidur bermimpi (REM Sleep), tubuh dapat bernapas lebih cepat sementara. Namun jika anak bernapas cepat sepanjang malam, atau terdapat napas tersendat-sendat, sebaiknya bawa anak berkonsultasi dengan dokter untuk memeriksa fungsi sistem pernapasan
3. Anak demam tinggi hingga bernapas cepat, jantung berdebar, sebaiknya diseka tubuh atau diberi obat penurun demam terlebih dahulu?
Ayah Bunda sebaiknya memberikan obat penurun demam kepada anak, bersamaan dengan menyeka tubuh dengan cara yang benar segera, agar suhu tubuh turun secepat mungkin. Saat demam mulai turun, napas terengah dan denyut jantung akan perlahan menyesuaikan menjadi lebih lambat menuju kondisi normal
4. Bagaimana mengamati tanda dada cekung?
Dapat diamati dengan melepas baju anak, lalu melihat area bawah tulang rusuk, tulang rusuk, dan di atas tulang selangka. Jika saat anak menarik napas masuk kulit di area tersebut tampak tertarik masuk atau cekung dalam dengan jelas, ini merupakan tanda berbahaya yang menunjukkan anak menggunakan tenaga otot bantu napas dengan berat dan harus segera dibawa ke rumah sakit






