Ketika memasuki usia lanjut, tubuh cenderung mengalami penurunan seiring waktu. Perubahan ini tidak sama bagi setiap individu karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor keturunan, penyakit, serta kebiasaan hidup seperti pola makan, pekerjaan, stres, tidur, dan olahraga. Oleh karena itu, penting untuk menyadari risiko yang mungkin terjadi akibat penurunan ini agar dapat merawat diri dengan tepat.
1) Depresi (Depression)
Masalah kesehatan mental adalah masalah utama pada usia lanjut, terutama depresi yang lebih rentan dialami dibandingkan usia lain. Hal ini disebabkan oleh perubahan fisik dan peran sosial seperti uban, kerutan kulit, atau keterbatasan bergerak. Jika orang lanjut usia tidak dapat menerima keadaan ini, risiko depresi meningkat, yang dapat menyebabkan perasaan bosan, kehilangan semangat, merasa tidak dicintai, tidak berharga, dan tidak diinginkan. Oleh karena itu, perlu memantau orang lanjut usia di sekitar kita, dan jika ada tanda-tanda menarik diri, kejenuhan, atau kesedihan, segera konsultasikan dengan dokter. Memberikan dukungan moral, kesempatan untuk mengambil keputusan, serta peran dalam aktivitas keluarga juga dapat mencegah depresi. Memeriksakan risiko depresi dan gangguan emosional dengan dokter spesialis juga berguna untuk penanganan yang tepat.
2) Jatuh (Fall)
Jatuh adalah masalah umum dan berbahaya pada usia lanjut. Berdasarkan statistik dari Departemen Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa orang berusia 65 tahun ke atas memiliki risiko jatuh sebesar 28-35%. Untuk usia 70 tahun ke atas, risikonya meningkat menjadi 32-42%, terutama pada malam hari saat menuju kamar mandi, karena kehilangan keseimbangan akibat penurunan fungsi otak, otot, tulang, dan sendi, serta penurunan pendengaran dan penglihatan. Cedera bisa berkisar dari ringan hingga parah, cacat, dan berujung kematian. Oleh karena itu, penting untuk memantau keseimbangan orang lanjut usia. Jika jatuh, jangan memindahkan posisi sebelum ahli datang untuk penanganan yang tepat, dan meski cedera ringan, tetap perlu periksa ke dokter. Penting juga untuk melakukan pengujian keseimbangan bagi lansia dengan Tes Berdiri Tandem untuk melatih keseimbangan, berjalan, dan memperkuat otot dengan benar.
3) Demensia (Alzheimer’s Disease)
Demensia dapat terjadi pada lansia mulai usia 65 tahun ke atas, menyebabkan penurunan kemampuan kognitif yang meliputi proses mengenali, mempelajari, dan menganalisis informasi. Hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi otak akibat usia lanjut dan penyakit seperti hipertensi, kolesterol tinggi, depresi, dan penyakit saraf. Faktor genetik juga berperan. Oleh karena itu, stimulasi kognitif melalui berbagai aktivitas sangat bermanfaat, misalnya mencocokkan gambar, menebak kata, menyusun puzzle, melukis, bermain catur, dan sebagainya untuk meningkatkan kemampuan berpikir, membaca, konsentrasi, dan memori. Proses aktivitas yang jelas dan mudah dipahami lebih diutamakan daripada hasil aktivitas. Selain itu, penting melakukan penilaian kemampuan belajar dan mengenali risiko demensia dengan dokter spesialis.
4) Kelemahan Otot (Muscle Weakness)
Orang lanjut usia berisiko lemah otot karena jumlah serta ukuran serat otot dan kekuatan ototnya menurun, sehingga gerakan menjadi tidak lincah. Kelemahan ini memiliki berbagai tingkat, mulai dari genggaman tangan yang kuat hingga yang tidak kuat, hingga kesulitan mengangkat kaki. Beberapa orang mungkin mengalami gejala singkat yang kemudian hilang, tetapi terkadang tidak ada peringatan dan dapat menjadi parah. Oleh karena itu, penting untuk terus memantau dan melakukan pemeriksaan dengan dokter spesialis seperti penilaian kekuatan otot kaki melalui Tes Lima Kali Duduk ke Berdiri untuk mendapatkan saran yang tepat dan penanganan yang cepat.
5) Perubahan Gaya Berjalan (Changes in gait)
Kinerja fisik orang lanjut usia akan menurun seiring bertambahnya usia, terutama dalam hal berjalan yang semakin lambat dan langkah kaki yang lebih pendek. Ini disebabkan oleh penurunan jaringan sendi dan otot, serta penghematan energi yang digunakan untuk berdiri dan berjalan. Di samping itu, ketika lansia sakit dan harus dirawat di rumah sakit, terkadang mereka tidak dapat berjalan. Oleh karena itu, berolahraga dengan berjalan setiap hari selama 20–30 menit dengan alat bantu seperti pergelangan kaki dan lutut, serta memilih sepatu yang tepat, dapat membantu mencegah jatuh dan cedera sendi. Selain itu, kecepatan berjalan juga dapat menjadi prediktor umur panjang (mortalitas), di mana lansia berusia 75 tahun yang berjalan pelan meninggal lebih cepat 6 tahun dibandingkan yang berjalan normal, dan lebih cepat 10 tahun dibandingkan yang berjalan cepat. Oleh karena itu, evaluasi kinerja lansia dengan mengukur kecepatan berjalan melalui Tes Kecepatan Berjalan 4 Meter oleh dokter spesialis dapat memberikan informasi tentang kinerja sesungguhnya dan gerak yang sesuai.
6) Perubahan Sensori (Sensory changes)
- Telinga Penurunan pendengaran, semakin bergema, dan degenerasi organ di telinga bagian dalam semakin meningkat. Suara berubah karena otot kotak suara dan pita suara semakin tipis. Frekuensi suara tinggi lebih sulit didengar daripada frekuensi suara rendah. Penelitian menunjukkan bahwa kehilangan pendengaran pada lansia diawali dengan hilangnya suara tinggi. Selain itu, mungkin mengalami pusing dan gangguan gerak akibat pengerasan pembuluh darah di telinga bagian dalam.
- Mata Penglihatan tidak sebaik dahulu karena pupil mengecil dan respons terhadap cahaya berkurang, kelopak mata turun, dan lensa mulai keruh, menyebabkan katarak. Lapangan pandang menyempit, otot bola mata menurun, sensitivitas penglihatan menurun, rabun jauh, dan penglihatan saat gelap atau malam hari menurun. Mata kering dan selaput lendir mudah teriritasi.
- Hidung Penciuman menurun karena degenerasi jaringan mukosa hidung, penurunan fungsi indra pengecap, serta penurunan rasa di lidah, yang dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan. Indra pengecap yang pertama kali terkena adalah rasa manis, kemudian asam, pahit, dan asin.
7) Sistem Ekskresi (Changes to excretory system)
Degenerasi sel dan otot sfingter menyebabkan masalah sistem ekskresi.
- Urin Kesulitan menahan buang air kecil, mengalami kebocoran urin, sering buang air kecil. Wanita lebih sering terpengaruh dan risiko lebih tinggi dibandingkan pria karena menopause yang menyebabkan kekurangan hormon seksual.
- Tinja Kesulitan menahan buang air besar, dan sembelit yang sering terjadi karena lambung dan usus menurunkan gerak peristaltik seiring usia, kurang bergerak, kurang olahraga, konsumsi sayuran dan buah yang sedikit, kurang minum, serta efek samping dari obat yang dikonsumsi.
8) Osteoporosis (Senile Osteoporosis)
Masalah tulang pada usia lanjut adalah meningkatnya pelepasan kalsium dari tulang, sehingga berat tulang menurun, mudah rapuh, dan mudah patah. Panjang tulang belakang menurun, diskus intervertebralis menipis, postur membungkuk, tinggi badan menurun, dan pergerakan sendi kurang leluasa, kaku, infeksi lebih mudah terjadi. Olahraga rutin dapat membantu mengurangi kehilangan kepadatan tulang, serta mengonsumsi makanan tinggi kalsium. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk pencegahan dan penanganan osteoporosis dengan cara yang tepat.
9) Perubahan Postur (Posture change)
Postur tubuh lansia dalam aktivitas sehari-hari sangat penting karena mempengaruhi kerja organ tubuh. Postur yang baik akan meningkatkan kelincahan hidup lansia. Masalah yang sering muncul antara lain berjalan membungkuk, langkah yang lebih pendek, dan ujung kaki lebih banyak ke samping. Fisioterapi dapat memperbaiki masalah ini dengan meningkatkan mobilitas dan mengajarkan gerakan yang tepat, tergantung pada tubuh masing-masing individu. Oleh karena itu, penting melakukan pemeriksaan postur lansia dengan Tes Berdiri Tandem bersama penilaian lain sesuai diagnosis dokter spesialis untuk gerakan dan olahraga yang tepat.
10) Daya Tahan (Endurance)
Seiring bertambahnya usia, daya tahan tubuh menurun. Misalnya, pada usia 25 dan 35 tahun saat menaiki tangga yang sama, daya tahan mungkin berbeda. Pada usia 35 tahun, kondisi tubuh mungkin lebih mudah lelah dan kurang tahan. Berdasarkan alasan ini, olahraga yang meningkatkan daya tahan otot seperti berjalan cepat atau berlari kecil dapat meningkatkan daya tahan sistem peredaran darah dan fungsi paru-paru, karena membakar lemak dengan oksigen untuk energi otot. Memilih jenis latihan yang sesuai dengan kondisi tubuh dan lingkungan sangat penting, dan memerlukan pemeriksaan kinerja, kekuatan otot, keseimbangan, serta risiko jatuh oleh dokter spesialis untuk perawatan diri yang benar.
Pemeriksaan evaluasi fisik, memori, dan emosi lansia oleh dokter rehabilitasi serta mendapatkan saran yang tepat dari fisioterapis dan terapis okupasi merupakan aspek penting yang membantu lansia memanfaatkan potensi sesuai usia, menjaga kesehatan, dan meningkatkan kualitas hidup di usia lanjut.
















