Di tengah situasi pandemi COVID-19 yang menyebar ke seluruh dunia, ditemukan adanya hubungan antara penyakit dengan gejala mirip Kawasaki dengan COVID-19 yang menyebabkan kematian anak akibat komplikasi. Hal ini disebabkan oleh peradangan jantung atau pembengkakan atau penyumbatan arteri koroner yang menyuplai otot jantung, yang dapat mengakibatkan iskemia miokard. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh lengah, tetap waspada dan mengamati gejala dengan cermat. Jika ada keraguan, segeralah membawa anak ke dokter.
Anak-anak dengan COVID-19
Penyakit infeksi COVID-19 atau secara resmi dikenal sebagai SAR–CoV-2 adalah virus yang pertama kali ditemukan mewabah di kota Wuhan, Cina pada bulan Desember 2019. Setelah itu, virus ini menyebar ke berbagai negara di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization atau WHO) mengumumkannya sebagai pandemi global pada bulan Maret 2020. Ada jutaan kasus infeksi yang dikonfirmasi, termasuk ratusan ribu kematian di seluruh dunia. Kasus pertama di Thailand dilaporkan pada Januari 2020, merupakan pasien pertama yang terdeteksi di luar China. COVID-19 adalah virus dalam keluarga Corona Virus. Laporan awal menunjukkan bahwa kebanyakan pasien dengan infeksi parah adalah orang dewasa. Jumlah pasien yang terinfeksi COVID-19 yang berusia di bawah 18 tahun hanya 2,2% di China dan 2% di Amerika Serikat.
Anak-anak yang terinfeksi COVID-19 seringkali tidak menunjukkan gejala atau hanya memiliki gejala ringan. Sekitar pertengahan April 2020 (sekitar 1 bulan setelah mulainya pandemi parah di Eropa), dokter anak di Inggris melihat adanya gejala pada anak-anak yang tidak dapat dijelaskan, seperti demam tinggi, sakit kepala, sakit tenggorokan, sakit perut, dan muntah. Beberapa anak juga mengalami ruam dan syok, yang mirip dengan Toxic Shock Syndrome, dan beberapa memiliki ruam, mata merah, dan bibir merah. Pada beberapa pasien, gejalanya memenuhi kriteria diagnosis penyakit Kawasaki (Kawasaki Disease). Selain itu, laporan menunjukkan beberapa pasien mengalami pembengkakan arteri koroner dengan gejala seperti anak-anak dengan Kawasaki Disease, dan hampir semua menunjukkan respons imun yang menunjukkan adanya infeksi COVID-19 sebelumnya, walau virus mungkin tidak terdeteksi di saluran pernapasan pasien tersebut.
Royal College of Paediatrics and Child Health di Inggris menerbitkan surat peringatan kepada dokter anak tentang kondisi ini pada 27 April 2020, menyebutnya sebagai Pediatric Multisystem Inflammatory Syndrome – Temporally Associated with COVID-19 (PIMS-TS). Setelah itu, ada konfirmasi mengenai temuan kondisi serupa pada anak-anak di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat. Beberapa kasus memiliki gejala yang sangat parah hingga menyebabkan kematian. Sementara itu, Centers for Disease Control (CDC) dari Amerika Serikat juga mengeluarkan peringatan tentang penyakit ini pada 14 Mei 2020, menyebutnya Multisystem Inflammatory Syndrome in Children Associated with COVID-19 (MIS-C).
Penyakit Jantung dengan KAWASAKI DISEASE
Penyakit Kawasaki (Kawasaki Disease) pertama kali ditemukan oleh Dr. Tomisaku Kawasaki pada tahun 1961. Temuan ini dilaporkan dalam jurnal medis di Jepang dan Inggris pada tahun 1967 dan 1974 secara berurutan. Hingga saat ini, penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti tetapi lebih sering ditemukan pada anak kecil berusia di bawah 5 tahun yang mengalami demam lebih dari 4 – 5 hari. Gejala lainnya termasuk:
- Ruam
- Mata merah
- Mulut dan/atau lidah merah (Strawberry Tongue)
- Tangan dan kaki bengkak dan merah
- Limfadenopati servikal
Jika terdapat minimal 4 gejala, itu disebut Complete Kawasaki Disease, tetapi dalam beberapa kasus mungkin ada kurang dari 4 gejala dan disebut Incomplete Kawasaki Disease. Komplikasi utama dari penyakit ini adalah peradangan arteri koroner, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan penebalan arteri koroner (Aortic Aneurysm), berpotensi menyebabkan iskemia miokard dan infark miokard akut (Acute Myocardial Infarction).
Penyakit Jantung dengan MIS-C
Sindrom Inflammatory Inflammatory Multisistem pada Anak atau MIS-C menyebabkan peradangan pada berbagai organ. Tanda dan gejalanya pada anak-anak sangat mirip dengan anak yang mengalami Kawasaki Disease, seperti:
- Demam tinggi
- Ruam
- Mata merah
- Mulut merah
- Limfadenopati
Ada laporan mengenai Aneurisma Arteri Koroner pada beberapa pasien, tetapi juga ada beberapa perbedaan. Misalnya, usia pasien MIS-C cenderung lebih tua dibandingkan dengan Kawasaki Disease yang sering ditemukan pada anak kecil. Gejala gastrointestinal dan syok lebih umum pada MIS-C dibandingkan dengan Kawasaki Disease, dan hasil lab sering menunjukkan tingkat peradangan yang lebih parah. Selain itu, tidak ada bukti bahwa MIS-C lebih umum pada anak-anak keturunan Asia Timur (Jepang, Korea, China) seperti pada Kawasaki Disease.
Pemeliharaan Pasien MIS-C dan KAWASAKI DISEASE
Saat ini, belum ada pedoman yang jelas untuk merawat pasien MIS-C seperti pada pasien Kawasaki Disease sebab MIS-C adalah penyakit baru. Penyakit ini dapat membahayakan organ tubuh, terutama jantung dan sistem sirkulasi. Pasien dengan gejala mencurigakan harus segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang sesuai.
Pasien yang didiagnosis dengan MIS-C harus dirawat inap untuk pengawasan. Pasien yang sesuai diagnosis Kawasaki Disease biasanya dirawat dengan pendekatan yang sama seperti pada Kawasaki Disease, sementara pasien lainnya sering dirawat dengan cara suportif. Sebagian pasien memerlukan perawatan intensif di Unit Perawatan Intensif (ICU) dan/atau menerima imunomodulator untuk membendung sistem kekebalan tubuh yang bekerja berlebihan.
Baik MIS-C maupun Kawasaki Disease disebabkan oleh kelebihan respon imun (Autoimmune Disease) yang memunculkan simptom serupa. Apakah COVID-19 dapat menyebabkan Kawasaki Disease atau tidak masih belum diketahui dengan pasti. Oleh karena itu, jika anak memiliki gejala mirip MIS-C atau Kawasaki Disease meskipun tanpa riwayat kontak dengan penderita COVID-19, sebaiknya segera diperiksa oleh dokter. Penanganan cepat dapat meningkatkan peluang sembuh dan bertahan hidup. Selain itu, semua orang harus mengikuti aturan dari Kementerian Kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19.
Ref.
https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/pediatric-hcp.





