Kejadian pingsan saat berolahraga bagi atlet profesional maupun individu umum adalah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi karena ada yang bisa kembali pulih dan menjalani kehidupan normal, tetapi ada juga yang tidak bisa kembali pulih. Oleh karena itu, pemeriksaan jantung secara rutin dan menyeluruh sesuai panduan dari dokter spesialis jantung adalah hal penting untuk mencegah gagal jantung.
Mengapa atlet mengalami gagal jantung
Statistik di Amerika Serikat menunjukkan bahwa atlet memiliki kemungkinan meninggal hingga 1 dari 50.000 orang per kompetisi olahraga di tingkat perguruan tinggi dan bisa mencapai 1 dari 5.000 orang dalam kompetisi basket. Atlet yang berusia di atas 35 tahun memiliki risiko meninggal hingga 5% tergantung pada umur atlet, dan terjadi lebih banyak pada atlet pria dibanding wanita.
Penyebab pingsan di lapangan bagi atlet bisa disebabkan oleh beberapa hal berikut:
- Penebalan otot jantung adalah kondisi yang ditemukan pada atlet profesional. Ini terjadi akibat penebalan otot ventrikel kiri jantung yang berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini dapat terjadi karena kelainan genetik sebanyak 30% yang biasanya ditemukan lebih sering pada atlet kulit hitam. Jika ditemukan adanya jaringan ikat di otot jantung dan melakukan olahraga berat, ini dapat memicu gangguan irama jantung dan meningkatkan risiko kematian mendadak (Sudden Death ).
Penebalan otot jantung dapat menghambat sistem aliran darah, menyebabkan jantung bekerja lebih keras. Jika seorang atlet tidak menyadari bahwa mereka memiliki penebalan otot jantung dan melakukan olahraga berat, bisa menyebabkan jantung menjadi lelah dan meningkatkan risiko gagal jantung mendadak sehingga pingsan di lapangan. - Peradangan otot jantung bisa disebabkan oleh berbagai hal, biasanya disebabkan oleh infeksi virus yang berbahaya. Oleh karena itu, olahraga sebaiknya dihindari karena dapat memicu ventrikel kiri jantung berirama tidak normal dan berhenti berdetak , yang meningkatkan risiko kematian saat berolahraga.
- Gangguan irama jantung saat berolahraga disebabkan oleh waktu lama yang dihabiskan dan intensitas tinggi dalam berolahraga, yang menyebabkan kehilangan elektrolit dalam tubuh sehingga mempengaruhi keseimbangan sistem elektrik jantung dan menyebabkan gangguan irama jantung.
Selain itu, beberapa orang mungkin tidak tahu bahwa mereka memiliki kondisi jantung abnormal, terutama individu yang berusia di bawah 35 tahun. Mereka mungkin mengabaikan pemeriksaan kesehatan jantung dan baru sadar ketika sudah terlambat.

Zona latihan dan detak jantung
Latihan fisik memiliki berbagai zona dari yang paling ringan hingga yang paling berat, di mana detak jantung maksimum per menit (MPHR) bervariasi. Mengenal zona latihan dapat membantu dalam memilih latihan yang cocok dan baik untuk kesehatan jantung.
- Zona 1 50 – 60% MPHR (Sangat Ringan) membantu memulihkan kekuatan tubuh tanpa menjadi sangat lelah
- Zona 2 60 – 70% MPHR (Ringan) meningkatkan kekuatan tubuh, membantu pembakaran lemak, bagus untuk jantung dan paru-paru
- Zona 3 70 – 80% MPHR (Sedang) meningkatkan metabolisme, kebugaran, lebih banyak berkeringat, cocok untuk pecinta kesehatan yang senang berolahraga
- Zona 4 80 – 90% MPHR (Berat) meningkatkan ketahanan otot, efisiensi latihan, mempercepat nafas, meningkatkan kekuatan otot bagi atlet atau orang yang ingin meningkatkan kekuatan otot
- Zona 5 90 – 100% MPHR (Maksimum) meningkatkan kapasitas fitnes, membuat merasa lelah, pernafasan cepat, ketegangan dan kelelahan otot bertambah, cocok bagi atlet yang latihan untuk kompetisi
Pemeriksaan kebugaran atlet sebelum bertanding
Pemeriksaan kebugaran atlet sebelum bertanding sangat penting untuk mencegah pingsan dan gagal jantung saat berolahraga. Pemeriksaan meliputi:
- Penapisan riwayat dan pemeriksaan oleh dokter spesialis secara detail
- Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG – Electrocardiogram) untuk menapiskan kelainan jantung, mengurangi kematian pada kelompok usia di bawah 35 tahun hingga 90%
- Pemeriksaan kapasitas jantung dengan tes treadmill (Exercise Stress Test) memantau aliran darah dan grafik elektrik jantung saat berolahraga yang dapat menapiskan penyakit arteri koroner lebih dari 70%
- Pemeriksaan jantung dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk diagnosis yang akurat, menunjukkan fungsi pompa jantung sedekat mungkin dengan kondisi asli, dan menunjukkan lokasi pembuluh darah jantung untuk mencegah gangguan irama jantung saat berolahraga
- Pemindaian kalsium koroner (Coronary Calcium Scan: CAC) untuk menilai risiko penyakit jantung iskemik akibat penyempitan arteri pada usia 40 tahun ke atas
Jika mengalami kelelahan cepat, nyeri dada, hampir pingsan, atau jantung berdebar saat berolahraga, segera melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.
AED Alat Penyambung Nyawa di Lapangan
Dalam setiap kompetisi, penyelenggara harus menyiapkan peralatan penyelamatan hidup, terutama dengan menyediakan alat defibrillator eksternal otomatis (Automated External Defibrillator: AED) yang dapat memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan ritme jantung yang normal. Harus tersedia petugas yang siap memberikan perawatan darurat jika ada situasi darurat selama kompetisi berlangsung.
Pertolongan harus dilakukan dengan benar dalam waktu 3 – 5 menit untuk meningkatkan kesempatan hidup, termasuk:
- Sebelum memberikan bantuan, pastikan lingkungan aman dan bebas risiko
- Hubungi nomor darurat 1669 atau ambulans di tempat dengan peralatan AED
- Berikan pertolongan dengan memanggil pasien. Jika tidak ada respons, lakukan resusitasi dengan menekan dada hingga alat AED atau ambulans tiba
Bagi atlet profesional, pemeriksaan kesehatan tahunan secara rutin sangat penting untuk memastikan kondisi fisik siap bertanding, terutama pemeriksaan kesehatan jantung yang tidak boleh diabaikan. Mereka yang menyukai olahraga juga harus memeriksa kesehatan tahunan. Perhatikan perubahan tubuh agar dapat berkonsultasi dengan dokter tepat waktu.






