Jika terjebak dalam situasi yang tak terduga seperti anggota keluarga mengalami henti jantung, menemukan orang tak sadarkan diri akibat henti jantung, hal yang harus dilakukan secepat mungkin adalah menyelamatkan orang yang mengalami henti jantung mendadak dengan cara yang benar untuk meningkatkan peluang bertahan hidup.
Mengapa Jantung Berhenti Berdetak
Henti jantung dapat terjadi karena berbagai sebab, yang paling umum adalah penyakit jantung, terutama
- Gumpalan darah Penyempitan arteri jantung mendadak akibat pembuluh darah yang mengalirkan darah ke otot jantung tersumbat atau menyempit secara mendadak, menyebabkan otot jantung kekurangan darah sehingga jantung berhenti berdetak jika tidak mendapatkan perawatan yang tepat waktu.
- Gangguan irama jantung berat bisa berdetak terlalu lambat atau terlalu cepat, atau bergantian antara lambat dan cepat, bisa menjadi parah hingga menyebabkan jantung berhenti dan kematian.
- Penebalan otot jantung yang tidak normal sejak lahir bisa ditemukan pada orang muda, terjadi di sekitar otot jantung bagian bawah kiri. Dinding jantung sangat tebal sehingga menghalangi aliran darah, menyebabkan gangguan irama jantung berat yang bisa membuat jantung berhenti berdetak secara mendadak.
Mengamati Gejala Henti Jantung
Gejala henti jantung biasanya terjadi secara mendadak tanpa tanda-tanda peringatan sebelumnya, tetapi mungkin ada gejala sakit dada yang mendahuluinya dalam beberapa kasus. Ciri-ciri sakit dada adalah nyeri yang spesifik, nyeri sesak di bagian tengah cenderung ke kiri, menjalar ke lengan kiri, atau nyeri di daerah ulu hati. Gejala ini muncul saat melakukan aktivitas fisik seperti naik tangga, berjalan, atau saat mengalami kejutan ekstrem, dan biasanya disertai gejala berkeringat, berdebar-debar, wajah pucat, seperti akan pingsan atau tak sadarkan diri

5 Tahapan Tindakan Saat Jantung Berhenti Berdetak
Jika melihat seseorang akan pingsan, sakit dada, berkeringat, jatuh, dicurigai mengalami henti jantung segera memberikan bantuan tanpa ragu sesuai prosedur yang benar, yaitu
- Tahap 1 Tenangkan diri dan amati keselamatan Para penolong harus menenangkan diri, berusaha untuk tidak panik, melihat kejadian yang terjadi di depan mata, lalu memeriksa sebelum memberikan bantuan. Jika berada di situasi yang tidak aman seperti sengatan listrik, kebakaran, atau bangunan runtuh, dilarang keras memberikan bantuan. Tunggu hingga aman baru pindahkan pasien ke tempat yang aman untuk memberikan bantuan lebih lanjut.
- Tahap 2 Berikan bantuan pada yang mengalami henti jantung Atur posisi pasien berbaring telentang di atas permukaan yang keras, panggil dengan suara keras dan tepuk kedua bahunya untuk melihat respons apakah pasien sadar atau tidak. Jika pasien terbangun atau sadar, atur posisi miring.
- Tahap 3 Dengarkan suara napas dan lihat pola pernapasan di dada untuk memeriksa apakah orang yang mengalami henti jantung bernapas atau tidak dengan menempatkan telinga dekat ke mulut dan hidung pasien untuk mendengarkan suara napas, menggunakan pipi untuk merasakan napas yang mungkin keluar dari hidung atau mulut pasien, dan gunakan mata untuk memeriksa gerakan dada pasien naik dan turun dengan irama.
- Tahap 4 Minta bantuan dan panggil 1669 bahwa ada orang yang tidak sadar, tidak bernapas, sebutkan lokasi kejadian, minta ambulans dan alat AED, serta beri tahu nama dan nomor telepon orang yang bisa dihubungi karena semakin cepat bantuan semakin baik
- Tahap 5 Mulai Lakukan CPR jika pasien henti jantung, tidak sadarkan diri, tidak bernapas, atau bernapas tersengal, harus memompa dada cukup dalam agar tekanan bisa memompa darah dari jantung, dengan menekan pada tulang dada sekitar 2 inci. Tekanan harus cukup kuat agar darah dari jantung bisa keluar dan iramanya harus sekitar 100 kali per menit.
Menyelamatkan orang yang henti jantung ada di waktu sekitar 4 – 5 menit. Jika lebih dari itu, darah tidak akan mengalir ke otak dan bisa menyebabkan kematian, jadi perlu tahu tahap penyelamatan dengan cara yang benar untuk meningkatkan peluang bertahan hidup orang yang henti jantung. Selain itu, jika ada anggota keluarga berisiko penyakit jantung, harus melakukan pemeriksaan kesehatan jantung secara rutin setiap tahun dan harus selalu siap menghadapi kejadian tak terduga yang mungkin terjadi.






