Dengkuran terjadi saat tidur karena otot leher yang rileks dan mengendur sehingga saluran pernapasan menyempit. Udara yang melewati saluran pernapasan yang menyempit menyebabkan getaran pada jaringan leher seperti amandel, langit-langit lunak, dan uvula. Getaran tersebut menyebabkan suara dengkuran. Selain otot leher yang mengendur, ada penyebab lain yang membuat saluran pernapasan menyempit atau tersumbat seperti amandel yang membesar, seseorang yang sangat gemuk mungkin memiliki jaringan dinding leher yang banyak, lidah yang besar, atau adanya tumor atau kista di saluran pernapasan bagian atas. Dengkuran adalah tanda bahwa pasien mungkin memiliki gangguan pada sistem pernapasan.
Apnea tidur obstruktif (obstructive sleep apnea: OSA) itu apa?
Selain dengkuran, saat tidur juga bisa terjadi henti napas ketika jaringan leher atau lidah mengendur dan menutup saluran napas bagian atas. Tubuh berusaha bernapas lebih keras agar udara bisa melewati saluran napas yang menyempit, makin menyempit hingga tertutup sepenuhnya. Ini seperti menyedot makanan dengan sedotan, makanan akan terjebak di ujung sedotan dan tidak bisa lewat. Dalam kasus ini, makanan diibaratkan seperti udara. Ketika udara tidak dapat lewat, tubuh tidak bisa mendapatkan oksigen. Ketika otak kekurangan oksigen, penderita akan terbangun dengan bernapas kuat atau batuk keras untuk mengatur posisi lidah. Dalam satu siklus tidur, dengkuran dan henti napas bisa terjadi beberapa kali, hasilnya pasien tidak mendapatkan tidur yang cukup dan otak tidak mendapat oksigen secara optimal.
Pengobatan untuk dengkuran dan apnea tidur
Jika tingkat keparahan gejala pasien ringan, pengaturan perilaku dan gaya hidup bisa membantu memperbaikinya, seperti menurunkan berat badan, berolahraga, menghindari alkohol atau makan selama 3 jam sebelum tidur. Jika pasien memiliki kondisi ini dari tingkat sedang hingga berat, perlu pengobatan lebih lanjut seperti operasi jaringan leher, rahang, lidah, atau uvula untuk membantu membuka saluran napas. Penggunaan alat tiup untuk mengobati apnea tidur [continuous positive airway pressure (CPAP) titration] adalah metode terbaik saat ini. Ada juga alat oral yang bisa digunakan. Memilih metode pengobatan tergantung pada keparahan, kecocokan, dan kerjasama pasien. Pasien sebaiknya menemui dokter untuk mendapatkan diagnosis lebih lanjut, seperti polisomnografi, untuk menilai kualitas tidur dan tingkat keparahan penyakitnya.
Apa itu alat oral?
Alat dalam mulut yang digunakan untuk mengobati dengkuran dan apnea tidur terbuat dari akrilik untuk penggunaan oral, mirip dengan retainer bagi orthodonsia atau pelindung gigitan bagi orang yang menggertakkan gigi saat tidur. Alat tersebut membantu mencegah jaringan leher mengendur saat tidur, sehingga mencegah penyumbatan saluran napas. Alat oral lebih tidak mengganggu dibandingkan penggunaan CPAP, mengurangi risiko akibat operasi, dan biayanya lebih rendah. Namun, alat ini efektif hanya jika pasien dengan apnea tidur memiliki tingkat keparahan ringan hingga sedang.
Alat oral memiliki beberapa jenis, dengan prinsip kerja pada 3 cara berikut:
- Mengatur posisi rahang bawah ke depan
- Mengatur posisi lidah ke depan
- Menopang langit-langit lunak dan uvula agar lebih tinggi
Dengkuran adalah masalah tidur yang sering ditemui. Suara dengkuran tidak hanya mengganggu orang yang tidur bersama, tetapi juga menyebabkan berbagai gangguan pada tubuh pasien seperti lelah di siang hari, berkurangnya kemampuan berpikir, mengingat, dan bekerja. Juga berisiko menyebabkan tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan pembuluh darah, serta disfungsi ereksi. Jika mendengkur atau berpikir memiliki apnea tidur, sebaiknya segera diagnosis, evaluasi tingkat keparahan, dan pilih metode pengobatan yang sesuai untuk mengurangi risiko penyakit serta meningkatkan kualitas hidup pasien.




