Untuk dokter mendiagnosis apakah seseorang mengalami insomnia atau tidak, harus didasarkan pada riwayat kesehatan pasien terutama. Dokter akan menanyakan rinciannya insomnia tersebut seperti
- kesulitan tidur hanya ketika baru saja tidur atau sering terbangun, atau setelah tidur sebentar lalu bangun dan tidak dapat tidur lagi
- durasi dan frekuensi gejala, pola tidur, jam tidur, waktu bangun, jumlah kali terbangun di malam hari
- gejala lain yang muncul saat tidur, aktivitas sebelum tidur, lingkungan dalam kamar tidur dan peralatan tidur, serta lingkungan sekitar rumah
- aktivitas dan gejala mengantuk di siang hari
- riwayat penyakit, riwayat penggunaan obat dan zat adiktif, termasuk riwayat keluarga
Selain itu, dokter harus melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, terutama pemeriksaan sistem saraf untuk mencari tanda-tanda kelainan pada sistem saraf. Secara umum, jika ditemukan kelainan yang jelas pada sistem saraf, atau ditemukan bahwa insomnia disebabkan oleh penyakit saraf atau komplikasi dari penyakit lain, dokter akan merekomendasikan pemeriksaan laboratorium tambahan untuk mendapatkan diagnosis yang lebih jelas, yang akan berbeda untuk setiap individu.
Kemudian memberikan pengobatan penyebab yang menyebabkan insomnia tersebut. Misalnya jika ditemukan bahwa insomnia disebabkan oleh kelompok gangguan kecemasan (Anxiety disorder), pengobatan akan fokus pada pengobatan gangguan kecemasan ini bersamaan dengan penyesuaian lingkungan tidur. Bagi yang mengalami insomnia tanpa penyebab yang jelas, dokter akan memberikan pengobatan yang sesuai dengan tingkat keparahan gejala insomnia untuk menentukan arah pengobatan selanjutnya.



