Pada saat ini, percaya atau tidak percaya bahwa tren diet dengan metode IF atau Intermittent Fasting atau puasa berselang kini sedang populer. Kita mungkin sudah sering mendengar istilah “IF 18/6, IF 20/4, atau IF 23/1” dari orang-orang di sekitar kita yang peduli dengan penampilan dan kesehatan.
Kepercayaan bahwa puasa berselang seperti IF bermanfaat untuk kesehatan dan kecantikan bersama-sama, membantu menurunkan berat badan dan mengurangi lemak tubuh tanpa harus mengontrol asupan makanan. Yang penting, kita bisa makan dengan jumlah dan kalori sebanyak apapun yang diinginkan. Ini mungkin memperlambat penuaan sehingga konsep ini menjadi populer dan sering dibahas mulut ke mulut serta menjadi topik tren di bidang kesehatan dan kecantikan dalam 2-3 tahun terakhir.
Bagi ahli gizi, Intermittent Fasting (IF) adalah metode puasa tidak berkesinambungan dengan menjadwalkan waktu makan dan waktu puasa dengan jelas, tanpa memfokuskan pada penghitungan kalori. Ada 4 cara pelaksanaannya:
1.) Puasa selang-seling hari (Alternate-day Fasting) Dengan hari makan normal tanpa batasan kalori diikuti dengan hari puasa penuh, yang hanya bisa mengonsumsi air dan minuman bebas kalori saja. Biasanya terdiri dari Fast Day yaitu puasa 2 hari per minggu (tidak berurutan) dan Feast day yaitu makan sesuai keinginan selama 5 hari per minggu.
2.) Modifikasi dari puasa selang-seling hari (Modified Alternate-day Fasting) Pada hari puasa 2 hari per minggu, bisa mengonsumsi makanan rendah kalori sekitar 500 kalori per hari, atau minuman rendah kalori seperti kopi hitam, teh hitam, dan minuman herbal tanpa susu dan gula. Cara ini lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan Alternated day Fasting
3.) Puasa dengan membatasi waktu makan dalam sehari (Time-restricted Feeding) yang merupakan bentuk yang paling populer dan sering disebut sebagai metode IF seperti IF 18/6, IF 20/4, atau IF 23/1.
Contohnya, IF 18/6 berarti menetapkan waktu puasa selama 18 jam sehari dan waktu makan selama 6 jam sehari. Dalam rentang 6 jam tersebut, kita bisa makan dengan jumlah dan kalori apapun yang diinginkan.
4.) Puasa berdasarkan ketentuan agama (Religious Fasting)
– Agama Buddha mengonsumsi makanan utama hanya 2 kali, yaitu sarapan dan makan siang (sebelum tengah hari).
– Agama Kristen memiliki beberapa sekte yang berpuasa, seperti Seventh Day Adventists dan Latter-day Saints.
– Agama Islam berpuasa selama bulan Ramadhan, dapat makan setelah matahari terbenam hingga sebelum matahari terbit.
Pada penderita diabetes yang ingin mengontrol berat badan dan gula darah, metode IF atau puasa bersambung bisa dilakukan. Namun, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter ahli penyakit dalam, edukator diabetes, atau ahli gizi sebelum memulai puasa agar mendapatkan saran yang tepat, serta penyesuaian dosis obat dan insulin jika diperlukan untuk mencegah kondisi negatif tersebut.
Ini bisa dilakukan dengan membagi dalam 3 kelompok, tergantung pada jenis obat yang digunakan, yaitu:
1.) Kelompok yang menggunakan obat yang tidak menurunkan gula, seperti Metformin Hydrochloride atau Pioglitazone, dan sebagainya.
2.) Kelompok yang menggunakan obat yang dapat menurunkan gula atau menggunakan insulin, seperti obat Sulfonylurea.
3.) Kelompok yang menggunakan insulin saja.
Untuk kelompok yang menggunakan obat di kategori 1 tidak perlu mengubah penggunaan obat dan bisa langsung mulai puasa berselang. Sementara itu, kelompok 2 dan 3 wajib berkonsultasi dengan dokter untuk menyesuaikan obat dengan perilaku makan yang berbeda dari biasanya.
Karena pada penderita diabetes, mungkin terjadi efek samping dari melakukan IF, seperti lemas, kurang bertenaga, sakit kepala, dehidrasi, hingga gula darah rendah saat puasa. Mengonsumsi makanan yang berlebihan selama waktu makan bisa menyebabkan gula darah postprandial tinggi. Oleh karena itu, disarankan bagi penderita diabetes yang melakukan puasa berselang untuk memperhatikan penyesuaian pola makan yang seimbang dan sesuai dengan prinsip gizi selama periode makan untuk kesehatan yang lebih baik.
Dengan hormat,
Nattharika Panyao
Ahli Gizi Profesional
Rumah Sakit Bangkok Chiang Mai
Terima kasih kepada
Jurnal Asosiasi Ahli Gizi Thailand, Volume 39, Edisi 1-3, Jan-Des 2562
Puasa Berselang dan Penurunan Berat Badan pada Diabetes oleh Asisten Profesor Dr. Wantanee Kriangsinyoth, Asosiasi Diabetes Thailand
Intermittent Fasting untuk Sahabat DM Thailand oleh Sumit Chotisiriluecha, Ahli Gizi, Rumah Sakit Phra Mongkutklao, Pengurus Asosiasi Ahli Gizi Thailand

