Fistula perianal bukanlah wasir yang bernanah seperti yang banyak orang pahami, dan banyak orang mungkin tidak akrab dengan penyakit ini, meskipun semua orang bisa mengalaminya. Ini adalah infeksi di daerah bokong yang terhubung dengan anus yang menyebabkan peradangan infeksi kronis. Mungkin ada perdarahan yang membuat salah paham sebagai wasir dan diobati secara salah. Mengetahui penyakit ini adalah penting karena jika terkena fistula perianal, sebaiknya menemui dokter untuk diagnosis penyakit dan mendapatkan perawatan yang tepat dan cepat sebelum gejalanya menjadi lebih parah.
Mengenal Fistula Perianal
Fistula Perianal (Anal Fistula atau Fistula – in – ano) atau abses kronis di bokong adalah penyakit infeksi kronis yang terjadi di daerah anus, daerah bokong, atau di sekitar mulut anus akibat infeksi kelenjar yang bertugas memproduksi lendir (Anal Gland) di daerah anus dari bakteri dalam feses dan kotoran yang menumpuk hingga membentuk nanah. Ketika jumlah nanah meningkat, nanah akan mulai merembet melalui lapisan otot anus hingga tembus ke permukaan kulit di sekitar anus, menjadi jalan yang menghubungkan antara anus dan kulit luar yang disebut Fistula Tract
Jenis Fistula Perianal
Fistula perianal dibagi menjadi 2 jenis yaitu
- Fistula perianal yang dangkal atau tidak kompleks (Simple Fistula) memiliki satu jalur penghubung antara anus dan kulit
- Fistula perianal yang mendalam atau kompleks (Complex Fistula) melibatkan lebih banyak otot sfingter anus, mungkin memiliki beberapa jalur keluar ke kulit atau dapat terhubung dengan organ di sekitarnya
Penyebab Fistula Perianal
Penyebab utama dari fistula perianal adalah infeksi atau abses pada anus sebelumnya. Ditemukan bahwa pasien dengan abses anus memiliki peluang mengalami fistula perianal sekitar 50 persen. Selain itu, ada penyebab lainnya meliputi:
- Peradangan usus kronis jenis Penyakit Crohn
- Infeksi dari beberapa penyakit seperti Actinomycosis, Sifilis
- Infeksi TBC atau Chlamydia
- Kanker anus atau beberapa tipe kanker kulit di sekitar mulut anus
Gejala Fistula Perianal
Gejala fistula perianal bisa bersifat kambuhan meliputi:
- Pembengkakan dan nyeri di bagian dalam bokong atau sekitar anus
- Cairan kental merembes keluar dari luka di kulit area anus, terkadang bercampur darah atau nanah
- Mungkin mengalami gatal di sekitar anus atau kulit sekitar anus menjadi meradang, bengkak, dan merah
Karena saluran penghubung (Fistula Tract) dapat mengalami penyumbatan yang menyebabkan abses, mengakibatkan pembengkakan dan nyeri di bokong atau anus. Beberapa pasien mungkin mengalami demam bersamaan.

Perbedaan Fistula Perianal VS Wasir
|
Wasir |
Fistula Perianal |
|
Buang air besar berdarah |
Darah merembes |
|
Tidak ada nanah |
Mendekati dengan nanah dan cairan kental |
|
Benjolan wasir menonjol ke luar |
Tidak ada benjolan wasir |
|
Nyeri saat buang air besar |
Nyeri di sekitar anus sepanjang waktu, bahkan saat tidak buang air besar |
|
Kesempatan untuk kambuh tinggi |
Kesempatan untuk kambuh rendah |
|
Dapat sembuh dengan sendirinya |
Sebagian besar tidak dapat sembuh dengan sendirinya |
Diagnosa Fistula Perianal
Proses diagnosis fistula perianal melibatkan evaluasi gejala pasien melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik dasar, diikuti dengan endoanal ultrasonography menggunakan frekuensi tinggi untuk pemeriksaan lebih mendetail. Pada kasus fistula perianal jenis kompleks, dokter akan mempertimbangkan untuk melakukan diagnosa dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI).
Namun, jika fistula perianal tidak diobati, infeksi dapat menyebar dan menjadi jenis fistula perianal yang kompleks.
Pengobatan Fistula Perianal
Metode pengobatan fistula perianal dapat dibagi menjadi:
- Pengobatan abses di area anus (Anal Abscess) – Melibatkan pembedahan abses untuk mengeluarkan nanah, biasanya bersamaan dengan pemberian antibiotik, penghilang rasa sakit, dan anjuran menjaga kebersihan area anus. Abses yang sudah mengalirkan nanah memiliki peluang menjadi fistula perianal sekitar 50%
- Pengobatan fistula perianal (Anal Fistula) – Pada pasien yang sudah terdiagnosis, perawatan dilakukan dengan operasi yang melibatkan berbagai metode berdasarkan pertimbangan dokter, termasuk:
- Prosedur LIFT (Ligation of Intersphincteric Fistula Tract) – Ini adalah metode pengobatan tanpa memotong otot sphincter anus. Ahli bedah kolorektal melakukan operasi dengan masuk di antara lapisan otot sphincter anus untuk mengambil jalur penghubung (Fistula Tract), kemudian memotong dan menjahit kembali jalur tersebut, mengembalikan kualitas hidup yang baik bagi pasien, dengan menghilangkan gejala tanpa masalah inkontinensia pasca operasi.
- Fistulotomy – Dengan pisau atau kauter untuk membuka jalur penghubung (Fistula Tract) sepanjang garis, kemudian luka dibersihkan dan dibuka hingga sembuh dalam waktu 4 – 6 minggu
- Seton – Metode ini cocok untuk fistula perianal jenis kompleks (Complex Fistula) dengan cara memanfaatkan Seton yang mengikat jalur penghubung (Fistula Tract)
- Fistulectomy – Prosedur ini melibatkan pemotongan seluruh bagian dari jalur penghubung (Fistula Tract). Pasca operasi, pasien mungkin mengalami masalah inkontinensia.
Jika pasien fistula perianal mengalami kekambuhan dengan abses pada area anus, abses tersebut perlu diobati dengan pembedahan untuk mengalirkan nanah sebelum melanjutkan pengobatan pada fistula perianal.
Namun, setiap metode pengobatan fistula perianal mungkin memiliki tingkat risiko inkontinensia yang berbeda, sehingga dokter dan pasien harus berdiskusi dengan seksama sebelum memutuskan perawatan. Selain itu, pasien yang telah menjalani operasi pengobatan mungkin memiliki risiko kambuh atau berkembangnya fistula perianal baru tergantung pada metode operasi yang digunakan.
Pencegahan Kambuhnya Fistula Perianal
Fistula perianal dapat dicegah untuk tidak kambuh setelah dilakukan pengobatan. Oleh karena itu, pastikan untuk menjaga kesehatan tubuh, memilih makanan bernutrisi tinggi dengan serat untuk melancarkan pencernaan, minum air secukupnya, hindari merokok, dan rutin berolahraga. Hindari sembelit atau diare, dan jaga kebersihan setelah buang air besar. Bagi penderita diabetes, melakukan kontrol gula darah dengan baik dapat membantu meminimalisir risiko terjadinya kekambuhan.






