Bangkok Hospital
Caret Right
Search
CTA Curve
Temukan dokter icon
Temukan dokter
Buat janji temu icon
Buat janji temu
kontak icon
kontak
telepon undefined
Menu
  • Pilih rumah sakit

  • Language

Bangkok Hospital
Ikuti beritanya
Lihat Google Maps
    Kebijakan Privasi

    |

    Kebijakan Cookie

    Copyright © 2026 Bangkok Hospital. All right reserved


    Jaringan Rumah Sakit Bangkok
    MEMBER OFBDMS logo
    CHAT

    Pusat Trauma

    Google AI Translate
    Translated by AI
    melayani
    dokter
    Penyakit dan Pengobatan
    Hubungi kami

    Informasi umum

    Tim Bedah Trauma

    Keahlian khusus

    Rujukan pasien yang terluka

    Misi Pusat Kecelakaan

    Program rehabilitasi pasien pasca cedera

    Nutrisi pada pasien tahap pemulihan

    Perawatan luka akibat panas

    Hubungi kami

    Nutrisi pada pasien fase pemulihan

    Kondisi penyakit kritis menyebabkan proses katabolisme (Catabolism) yang tinggi sehingga tubuh kehilangan massa otot (Lean Body Mass). Dilaporkan bahwa pasien luka bakar akibat air panas yang dalam kondisi kritis dapat kehilangan massa otot hingga 1 kilogram per hari, sementara pasien kritis lainnya kehilangan massa otot secara signifikan dalam 7–10 hari pertama penyakit, yang mengakibatkan kelemahan otot, kelelahan, penurunan kemampuan bergerak, kesulitan bernapas, dan menurunnya kualitas hidup. Pemberian terapi nutrisi secara tepat waktu dan memadai dapat membantu mencegah kehilangan massa otot dan membantu pasien pulih lebih baik.

    Setelah keluar dari unit perawatan intensif, pasien akan membutuhkan energi dan protein yang lebih tinggi untuk membantu memulihkan fungsi otot dan mencegah kehilangan lebih lanjut. Penelitian menemukan bahwa pasien membutuhkan energi sekitar 1,7 kali kebutuhan istirahat tubuh. Saat ini belum ada rekomendasi atau panduan yang spesifik mengenai pemberian energi dan protein pada fase pemulihan, tetapi dari Minnesota Starvation Study yang dilakukan pada orang sehat ditemukan bahwa setelah kelaparan seseorang membutuhkan energi hingga 3.000–4.500 kilokalori per hari dan protein 1,5–2,5 gram per kilogram berat badan.

    Pasien yang kehilangan massa otot dan kekuatan perlu mengonsumsi makanan tinggi energi dan protein serta nutrisi yang memadai untuk jangka waktu berminggu-minggu atau bertahun-tahun.

    Kebutuhan energi, protein, dan nutrisi pada pasien fase pemulihan

    Energi

    Setelah sakit tubuh akan membutuhkan lebih banyak energi untuk mengembalikan berat badan yang hilang selama sakit. Namun pasien seringkali mengalami penurunan nafsu makan, atau mungkin mual dan konstipasi akibat obat pereda nyeri, serta sering kekurangan pemahaman tentang kebutuhan asupan yang cukup. Dilaporkan bahwa pasien kritis setelah dilepas dari alat bantu napas hanya dapat mengonsumsi sekitar 700 kilokalori per hari, yaitu kurang dari 50% kebutuhan tubuh. Minuman nutrisi medis tambahan dapat membantu pasien mendapatkan energi dan protein yang cukup karena produk-produk ini memiliki komposisi nutrisi yang seimbang serta vitamin dan mineral lengkap, dan dapat digunakan sebagai pengganti makanan biasa untuk mereka yang makan lewat mulut tidak mencukupi, misalnya Neomune, Glucerna, Boost Optimum, dan sebagainya.


     
    Protein

    Pada kondisi normal tubuh membutuhkan protein 0,8–1 gram/kg berat badan, tetapi setelah sakit tubuh membutuhkan protein yang lebih tinggi yaitu 1,5–2,5 gram/kg berat badan untuk membantu penyembuhan luka lebih cepat, memulihkan sistem kekebalan dan otot, serta membantu penyatuan tulang lebih cepat. Misalnya pasien dengan berat 60 kg membutuhkan protein hingga 90–150 gram per hari, setara dengan daging, ikan, telur sekitar 25–40 sendok makan per hari. Pada pasien yang kehilangan nafsu makan coba konsumsi sejumlah kecil protein pada makan utama dan camilan. Ikan kukus, telur, ayam panggang, dan yogurt adalah sumber protein berkualitas baik dan mudah dicerna. Untuk yang menjalani pola makan vegetarian dapat memilih protein berkualitas dari kedelai. Saat ini susu almond semakin populer, tetapi umumnya memiliki protein lebih rendah dibandingkan susu sapi atau susu kedelai.

     
    Vitamin C dan Zinc

    Vitamin C penting untuk sintesis protein yang disebut kolagen, membantu memperbaiki jaringan ikat dan mempercepat penyembuhan luka. Sumber vitamin C yang baik meliputi buah-buahan asam, stroberi, kiwi, kentang panggang, brokoli, dan paprika.

    Zinc adalah mineral yang ditemukan dalam daging, ikan, daging bebek, ayam, susu, dan produk susu, serta terdapat dalam biji-bijian utuh, kacang-kacangan kering, polong-polongan, kacang-kacangan berselubung keras, dan biji-bijian.


    Vitamin D dan kalsium

    Vitamin D dan kalsium adalah nutrisi yang mendukung kesehatan tulang. Jika pasien memiliki patah tulang, sebaiknya mengonsumsi kalsium dan vitamin D yang cukup. Sumber makanan yang baik untuk kalsium meliputi susu, yogurt, dan susu kedelai yang diperkaya kalsium. Jika minum susu rendah lemak atau tanpa lemak 2 kotak per hari akan mendapatkan kalsium yang cukup.

    Tubuh mendapatkan vitamin D melalui sintesis di kulit setelah paparan sinar matahari dan dari makanan yang kaya vitamin D, seperti susu dan minyak hati ikan. Beberapa merek yogurt diperkaya vitamin D—bisa dilihat pada label nutrisi.


    Serat makanan

    Setelah sakit atau setelah operasi, pasien sering menerima obat pereda nyeri yang biasanya menyebabkan konstipasi. Konsumsi serat makanan dan minum cukup cairan akan membantu mengurangi dan mencegah konstipasi. Sumber serat yang baik termasuk biji-bijian utuh, buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Disarankan mengonsumsi buah 3–5 porsi per hari (1 porsi buah setara dengan 1 pisang sedang, 1 jeruk sedang, atau 6–8 potong pepaya matang) dan sayuran 4–6 sendok sayur per hari. Plum kering (prune) dan jus plum memiliki efek pencahar alami (harus minum cukup air juga).

     
    Minum cukup cairan

    Minum cukup cairan sangat penting selama dan setelah sakit. Dehidrasi membuat tubuh lemah, lesu, sakit kepala ringan, dan mual. Pasien dapat kehilangan cairan akibat asupan makanan yang sedikit, diare, dan muntah. Pasien sebaiknya minum 8–10 gelas per hari, yang sudah termasuk cairan dari makanan dan minuman lain seperti kuah sup, jus buah, susu, dll.

     


    Referensi

    1. Zanten et al., Nutrition therapy and critical illness: practical guidance for the ICU, post-ICU, and long-term convalescence phases. Critical Care (2019) 23:368.
    2. Paul E. Wischmeyer. Tailoring nutrition therapy to illness and recovery. Crit Care. 2017; 21(Suppl 3): 316.

    Untuk pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi

    Bangkok Trauma Center

    1st floor, Bangkok Hospital

    1724

    +662 226 4565

    [email protected]

    Dokter terkait

    Lihat semua dokter

    Penyakit dan Pengobatan

    Lihat semua