Kosakata Pemeriksaan Kesehatan 2026

Daftar Isi Pemeriksaan Kesehatan

  • Pemeriksaan dasar: tanda vital (tekanan darah, suhu, nadi) dan Body Mass Index (BMI).
  • Skrining mata: pemeriksaan awal untuk mendeteksi gangguan penglihatan.
  • Skrining pendengaran: menilai penurunan pendengaran dan kemungkinan penyebab umum.
  • Complete Blood Count (CBC): Hb/HGB, HCT, WBC, trombosit; membantu menilai anemia, infeksi/peradangan, dan gangguan pembekuan.
  • Profil gula darah: Fasting Blood Sugar (FBS) dan HbA1c untuk menilai kadar gula saat ini dan rata-rata jangka panjang.
  • Profil lemak darah: kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida untuk risiko penyakit kardiovaskular.
  • Fungsi ginjal: BUN, kreatinin, eGFR untuk menilai kemampuan filtrasi ginjal.
  • Asam urat: kadar uric acid untuk evaluasi hiperurisemia.
  • Fungsi hati: SGPT/ALT, SGOT, GGT, ALP untuk menilai gangguan/kerusakan hati dan saluran empedu.
  • Fungsi tiroid: TSH, Free T4, Free T3 untuk evaluasi hipo/hipertiroid.
  • Tumor markers: PSA, CEA, AFP sebagai penanda laboratorium yang dapat digunakan dalam evaluasi tertentu.
  • Urinalisis: parameter urine untuk skrining gangguan ginjal/saluran kemih.
  • Pemeriksaan feses: termasuk occult blood untuk skrining perdarahan saluran cerna.
  • Skrining kanker serviks: Liquid Based Cytology.
  • Radiologi: Chest X-Ray (CXR), USG seluruh abdomen, bone densitometry (lumbar hip), digital mammogram + USG payudara.
  • Pemeriksaan kardiovaskular: Exercise Stress Test (EST), EKG, ABI, Carotid Doppler.
  • Vitamin D: menilai kadar vitamin D.
  • Vitamin B12: menilai kadar vitamin B12.

Pemeriksaan Kesehatan Dasar (Basic Measurement)

Pemeriksaan dasar membantu menilai kondisi kesehatan umum melalui pengukuran vital signs dan perhitungan Body Mass Index (BMI).

Vital Signs

Indikator dasar fungsi tubuh: tekanan darah, suhu tubuh, nadi, dan laju napas. Perubahan nilai dapat menandakan perubahan kondisi kesehatan.

Tekanan Darah

  • Normal: <120/80 mmHg
  • Meningkat: 120–129/80–84 mmHg
  • Hipertensi tahap 1: 130–139/85–89 mmHg
  • Hipertensi tahap 2: 140–159/90–99 mmHg
  • Sangat tinggi: 160–179/100–109 mmHg
  • Krisis hipertensi: ≥180/110 mmHg

Dampak Tekanan Darah Tinggi/Rendah

Tekanan darah rendah dapat menyebabkan pusing, lemas, pingsan, risiko jatuh, dan bila sangat rendah dapat mengurangi pasokan oksigen sehingga membahayakan jantung dan otak.

Tekanan darah tinggi meningkatkan risiko komplikasi seperti gagal jantung, aritmia, penyakit ginjal kronis, pembengkakan tungkai, stroke (mis. wajah mencong, kelemahan/kebas satu sisi), gangguan retina, hingga demensia.

Penyebab

Hipertensi: primer (90–95%) dan sekunder akibat kondisi lain (mis. ginjal, adrenal, saraf, hormon, komplikasi kehamilan, obat). Faktor risiko: genetik, obesitas, kolesterol tinggi, diet tinggi garam, kurang aktivitas, alkohol, merokok, stres, usia.

Hipotensi dapat terkait dehidrasi, perubahan posisi, kehamilan, obat tertentu, masalah jantung/endokrin, perdarahan, infeksi berat, reaksi alergi, gangguan napas, stres, atau kekurangan nutrisi.

Suhu Tubuh

  • Normal: 35,4–37,4°C
  • Demam ringan: 37,5–38,4°C
  • Demam tinggi: 38,5–39,4°C
  • Sangat tinggi: >40°C

Perubahan suhu dipengaruhi usia, kondisi fisik, aktivitas, lingkungan, dan bentuk tubuh.

Denyut Nadi

  • Istirahat normal: 60–100 kali/menit
  • >100 kali/menit: takikardia
  • >150 kali/menit: takikardia berat (berbahaya)

Nadi cepat tanpa aktivitas/olahraga/demam dapat menandakan masalah kesehatan; bila disertai berdebar, sesak, atau mudah lelah dapat terkait aritmia.

Penyebab: faktor luar (olahraga, demam, cemas/stres, dehidrasi, gula darah rendah, perdarahan, stimulan/minuman/obat tertentu) dan faktor dalam (iskemia miokard akut, kelainan jantung bawaan, penyakit katup, hipertensi, anemia).

Body Mass Index (BMI)

BMI memperkirakan lemak tubuh dari berat badan dibagi tinggi badan (meter) kuadrat. BMI membantu menilai tren dan risiko penyakit tertentu, namun perlu dikombinasikan dengan penilaian lain.

Kategori BMI

  • <18,50: kurus
  • 18,50–22,9: normal
  • 23–24,9: overweight
  • 25–29,9: obes
  • >30: obes berat

Dampak

  • BMI rendah: risiko malnutrisi, mudah lelah, daya tahan menurun
  • BMI normal: risiko komplikasi terkait obesitas paling rendah
  • BMI tinggi: risiko komplikasi terkait obesitas meningkat (semakin tinggi, semakin besar risikonya)

Perbedaan BMI dipengaruhi pola makan, olahraga, genetik, kondisi kesehatan, dan faktor hormonal.

BMI Calculator Program

Skrining Mata

 

Mengapa Skrining Mata diperlukan?

Skrining mata adalah proses untuk menilai kesehatan mata, penglihatan, dan mendeteksi potensi kelainan mata. Beberapa penyakit mata mungkin tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga skrining mata rutin sangat penting untuk pencegahan dini dan pengobatan tepat waktu.

Daftar Tes Skrining Mata

    1. Tes Ketajaman Penglihatan (VA)

Tes ini mengevaluasi kemampuan melihat dan mengidentifikasi kelainan refraksi atau kondisi mata. Banyak profesi memerlukan standar ketajaman penglihatan tertentu, yang dapat melibatkan penglihatan terkoreksi (misalnya, kacamata) atau tanpa koreksi. Penglihatan sempurna sering disebut sebagai 20/20 (dalam satuan pengukuran A.S.). Tes ketajaman penglihatan membantu :

      • Menilai apakah bayi atau anak memiliki perkembangan penglihatan yang baik.
      • Memastikan persyaratan penglihatan untuk memperoleh SIM.
      • Mendiagnosis penyebab dan merencanakan perawatan untuk penurunan kejernihan penglihatan.
      • Gejala perkembangan penyakit yang menyebabkan perubahan penglihatan.
      • Memantau perubahan progresif pada penglihatan yang disebabkan oleh kondisi medis.
      • Mengevaluasi efektivitas perawatan, seperti obat atau operasi.
    1. Tes Tekanan Intraokular (Auto Tonometer)

Tekanan intraokular yang meningkat (di atas 21 mmHg) merupakan faktor risiko glaukoma. Jika tidak diobati, glaukoma dapat merusak saraf optik, menyebabkan penurunan penglihatan secara bertahap dan berpotensi menyebabkan kebutaan.

    1. Tes Refraksi (Auto Refractometer)

Perangkat otomatis ini mengukur kelainan refraksi seperti rabun jauh, rabun dekat, dan astigmatisme dengan lebih efisien dibandingkan teknik tradisional. Ini sangat berguna bagi individu dengan penglihatan berkurang.

    1. Tes Kelengkungan Kornea (Auto Keratometer)

Mengukur kelengkungan kornea untuk mendeteksi astigmatisme. Ini juga penting untuk perencanaan operasi katarak, terutama dalam memilih lensa intraokular yang sesuai.

    1. Pencitraan Retina tanpa Dilatasi Pupil (Auto Retina Camera atau Fundus Camera)

Kamera ini menangkap gambar detail retina, memungkinkan diagnosis yang akurat dan pemantauan perawatan. Ini juga membantu komunikasi yang jelas antara dokter dan pasien.

    1. Tes Penglihatan Warna

Mendiagnosis buta warna. Skrining dini, direkomendasikan pada usia 4,5 tahun, dapat mencegah keterkejutan akibat mengetahui keterbatasan di kemudian hari. Deteksi dini membantu dalam perencanaan perawatan dan penyesuaian hidup. Metode pengujian meliputi lempeng Ishihara, Cambridge Color Test, dan pengujian Anomaloscope.

    1. Pengukuran Kekuatan Lensa (Lensometer Portabel)

Mengukur kekuatan kacamata menggunakan lensometer untuk memastikan resep sesuai dengan kebutuhan penglihatan pasien.

 

Tes Skrining Pendengaran

 

Mengapa Skrining Pendengaran diperlukan?

Pendengaran berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam komunikasi. Kelainan apa pun dapat membuat komunikasi menjadi sulit. Gangguan pendengaran dapat terjadi pada usia berapa pun, sehingga skrining pendengaran secara rutin sangat penting untuk mencegah dan menangani potensi gangguan pendengaran.

Penyebab Umum Gangguan Pendengaran

  • Gangguan pendengaran terkait usia (Presbycusis)
  • Genetika
  • Cedera atau kecelakaan
  • Sumbatan kotoran telinga atau perforasi gendang telinga
  • Penyakit seperti infeksi, tumor, atau otosklerosis
  • Paparan bising keras dalam waktu lama
  • Gangguan pendengaran bawaan

Daftar Tes Skrining Pendengaran

    1. Audiometri Nada Murni

Mengevaluasi suara paling pelan yang dapat didengar seseorang pada berbagai frekuensi. Terdapat dua metode hantaran suara :

  • Hantaran Udara: Suara disalurkan melalui headphone.
  • Hantaran Tulang: Suara ditransmisikan melalui vibrator tulang.

Pendengaran normal dianggap berada pada -10 hingga 25 desibel (dB). Tingkat pendengaran di atas 25 dB menunjukkan gangguan pendengaran.

    1. Audiometri Wicara

Tes ini menilai tingkat paling pelan dari ujaran yang dapat didengar seseorang serta kemampuan mereka memahami kata-kata yang diucapkan. Individu mendengarkan kata-kata dan mengulanginya dengan suara keras.

Hasil dinyatakan sebagai persentase untuk menunjukkan pemahaman wicara.

    1. Tes Fungsi Telinga Tengah

Tes ini mengukur pergerakan gendang telinga dan telinga tengah sebagai respons terhadap tekanan udara dan suara keras. Hasilnya, bersama dengan gejala, digunakan untuk menilai kelainan pada telinga tengah. Tes ini membantu mengidentifikasi masalah seperti gendang telinga berlubang, adanya cairan atau nanah di telinga tengah, atau infeksi pada telinga tengah, serta gangguan fungsi tuba penyeimbang tekanan di telinga tengah.

    1. Respons Batang Otak Auditori (ABR)

Tes ini mengevaluasi fungsi saraf antara telinga bagian dalam dan batang otak. Tes ini digunakan pada pasien ketika dokter mencurigai adanya kelainan pada saraf pendengaran atau tumor pada saraf tersebut, atau pada mereka yang mengalami cedera yang memengaruhi pendengaran. Selain itu, ABR digunakan sebagai alat skrining pendengaran untuk anak-anak dan orang dewasa yang tidak dapat menjalani pemeriksaan Audiometri Nada Murni.

    1. Tes Emisi Otoakustik (OAE) (Tes Emisi Otoakustik : OAE)

Tes ini mengevaluasi fungsi telinga bagian dalam dan juga digunakan sebagai alat skrining pendengaran untuk bayi baru lahir. Selain itu, tes ini membantu memperkirakan tingkat pendengaran dan memantau potensi kerusakan pendengaran yang disebabkan oleh obat-obatan atau bahan kimia yang bersifat toksik bagi telinga bagian dalam.

Jika kelainan terdeteksi selama skrining pendengaran, evaluasi diagnostik lanjutan oleh dokter spesialis THT atau audiolog dianjurkan untuk penilaian yang akurat, pemantauan, dan pengobatan.

 

Complete Blood Count (CBC)

CBC menilai jumlah dan karakteristik 3 jenis sel darah: sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi kelainan dan menunjang diagnosis berbagai penyakit/kondisi.

Hemoglobin (Hb/HGB)

Protein pada sel darah merah yang menunjukkan kemampuan membawa oksigen.

Kadar normal

  • Pria: 13–18 g/dL
  • Wanita: 12–16 g/dL

Makna hasil

  • Lebih tinggi: dapat mengarah ke darah kental.
  • Lebih rendah: mengarah ke anemia.

Penyebab umum

  • Darah kental: obesitas, merokok, alkohol berlebihan, penggunaan diuretik, dehidrasi.
  • Anemia: produksi Hb/sel darah merah menurun (kekurangan gizi, kehamilan, penyakit kronis, masalah sumsum tulang), penghancuran sel darah merah cepat (mis. thalassemia, infeksi), atau kehilangan darah (kecelakaan, operasi, persalinan, perdarahan kronis yang memicu defisiensi besi).

Hematokrit (HCT)

Persentase konsentrasi sel darah merah terhadap volume darah total.

Kadar normal

  • Pria: 40–54%
  • Wanita: 36–48%

Makna hasil

  • Lebih tinggi: dapat mengarah ke darah kental.
  • Lebih rendah: mengarah ke anemia.

White Blood Cell Count (WBC)

Sel darah putih berperan dalam sistem imun untuk melawan infeksi; diproduksi di sumsum tulang.

Kadar normal

4.500–10.000 sel/ml.

Makna hasil

  • Lebih tinggi: dapat menandakan infeksi bakteri/virus atau reaksi terhadap obat/zat asing.
  • Lebih rendah: risiko infeksi lebih tinggi; dapat terkait kelainan sumsum tulang, kelainan bawaan, kanker, atau kerusakan berlebihan akibat infeksi virus.

Platelet count

Trombosit membantu menghentikan perdarahan saat terjadi luka.

Kadar normal

150.000–450.000/mm³.

Makna hasil

  • Terlalu rendah: darah sulit membeku, perdarahan lebih mudah terjadi.
  • Terlalu tinggi: dapat menyebabkan sumbatan pembuluh darah (trombosis).

Catatan

Kadar trombosit yang sangat rendah/tinggi dapat berdampak pada kemampuan menghentikan perdarahan atau risiko sumbatan pembuluh.

Tes Gula Darah (Profil Gula)

 

Mengapa tes gula darah diperlukan?

Tes kadar gula darah mengevaluasi konsentrasi gula dalam darah untuk menganalisis kemampuan tubuh dalam mengatur kadar gula secara efektif.

 

Gula Darah Puasa (FBS)

Tes Gula Darah Puasa mengukur kadar gula darah selama 2–3 hari terakhir. Tes ini mengharuskan puasa setidaknya 8 jam sebelum sampel darah diambil.

Kadar FBS

  • Kadar glukosa di bawah 100 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal.
  • Kadar glukosa antara 100-125 mg/dL menunjukkan peningkatan risiko diabetes.
  • Kadar glukosa di atas 126 mg/dL menunjukkan diabetes.

Hasil Kadar FBS

Jika kadar glukosa Anda berada antara 100-125 mg/dL (prediabetes), penting untuk menyesuaikan kebiasaan konsumsi gula Anda. Jika kadar glukosa Anda di atas 126 mg/dL (diabetes), Anda harus mencari pengobatan medis.

Penyebab Gula Darah Tinggi

Pada individu dengan diabetes, gula darah tinggi terjadi karena tubuh tidak memproduksi insulin yang cukup atau menjadi resisten terhadap insulin, sehingga menyebabkan pengaturan kadar gula darah yang tidak semestinya.

Pada mereka yang tidak menderita diabetes, gula darah tinggi dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti mengonsumsi gula atau karbohidrat berlebihan, stres kronis, kurang berolahraga, infeksi atau demam, masalah pankreas yang mengurangi produksi insulin, atau penggunaan obat-obatan tertentu seperti steroid atau imunosupresan.

 

Hemoglobin terglikasi (HbA1c)

Tes ini mengukur kadar protein hemoglobin dalam sel darah merah yang melekat glukosa. Hasilnya mencerminkan konsentrasi rata-rata gula darah selama 2-3 bulan terakhir.

Kadar HbA1c

  • Kadar HbA1c kurang dari 5,7% dianggap normal.
  • Kadar HbA1c antara 5,7% dan 6,4% menunjukkan risiko diabetes.
  • Kadar HbA1c 6,5% atau lebih diklasifikasikan sebagai diabetes.
  • Bagi individu yang sudah didiagnosis diabetes, pengendalian kadar HbA1c yang baik adalah di bawah 7%.

Hasil Kadar HbA1c

Jika kadar HbA1c tinggi dan menunjukkan diabetes atau risiko komplikasi, hal ini dapat menyebabkan kondisi seperti penyakit kardiovaskular, masalah pada mata, penyakit ginjal, gangguan saraf, dan infeksi. Selain itu, gula darah tinggi dapat menyebabkan peningkatan kekentalan darah.

Penyebab Kadar HbA1C

Pada individu dengan diabetes, kadar gula darah dapat dengan mudah meningkat akibat produksi insulin yang tidak mencukupi atau resistensi insulin, sehingga mengakibatkan pengaturan gula darah yang buruk.

Pada mereka yang tidak menderita diabetes, kadar gula darah dapat meningkat karena faktor seperti konsumsi berlebihan makanan manis atau kaya karbohidrat, stres kronis, kurang berolahraga, infeksi, demam, masalah pankreas yang menyebabkan produksi insulin tidak mencukupi, atau penggunaan obat-obatan tertentu, seperti steroid dan imunosupresan.

 

Blood Lipid Test (Lipid Profile)

Pemeriksaan lipid darah menilai kadar lemak dalam tubuh. Lemak dibutuhkan, tetapi bila berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Cholesterol

Kolesterol adalah lemak yang dapat diproduksi tubuh dan juga berasal dari makanan. Jenis utama:

  • High-Density Lipoprotein (HDL) – kolesterol “baik”
  • Low-Density Lipoprotein (LDL) – kolesterol “jahat”

Kadar kolesterol total

  • ≤200 mg/dL: normal
  • 200–239 mg/dL: meningkat
  • ≥240 mg/dL: tinggi

Dampak kolesterol tinggi

Meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Penyebab kolesterol tinggi

Merokok, kurang aktivitas fisik, konsumsi lemak jenuh/lemak trans berlebihan, dan alkohol berlebihan.

High-Density Lipoprotein (HDL)

HDL membawa kolesterol dan trigliserida dari pembuluh darah/jaringan ke hati untuk dikeluarkan, sehingga membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

Kadar HDL

  • Pria: >40 mg/dL
  • Wanita: >50 mg/dL

Makna kadar HDL

HDL tinggi umumnya baik. HDL rendah dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan nyeri dada.

Low-Density Lipoprotein (LDL)

LDL dapat menumpuk di dinding pembuluh darah dan menyebabkan penyempitan/ pengerasan arteri.

Kadar LDL

Nilai normal LDL sebaiknya tidak melebihi 130 mg/dL.

Dampak LDL tinggi

Meningkatkan risiko penyakit arteri koroner dan stroke.

Penyebab LDL tinggi

Konsumsi lemak jenuh (mis. daging berlemak, kuning telur, lemak hewan, mentega, minyak/ santan kelapa) dan lemak trans (mis. margarin, shortening, krimer non-susu, susu evaporasi).

Triglyceride

Trigliserida dibuat di hati atau berasal dari makanan berlemak. Kelebihan energi diubah menjadi trigliserida dan disimpan sebagai cadangan; kadar yang terlalu tinggi meningkatkan risiko penyakit.

Kadar trigliserida

  • <150 mg/dL: normal
  • 150–199 mg/dL: batas tinggi
  • 200–499 mg/dL: tinggi
  • ≥500 mg/dL: sangat tinggi

Dampak trigliserida tinggi

Meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, obesitas, pankreatitis, fatty liver disease, dan kanker payudara.

Penyebab trigliserida tinggi

Dipengaruhi produksi hati dan konsumsi makanan tinggi lemak seperti lemak trans, perut babi, minyak, mentega, dan lemak lainnya.

Tes Fungsi Ginjal

 

Mengapa Tes Fungsi Ginjal diperlukan?

Tes fungsi ginjal mengevaluasi kesehatan ginjal dan kemampuannya untuk membuang zat sisa dari tubuh. Tes ini biasanya mencakup pengukuran berbagai zat dalam darah. Tes ini penting untuk mendeteksi kelainan dan menangani kondisi terkait ginjal secara efektif.

 

Nitrogen Urea Darah (BUN)

Tes BUN mengukur kadar nitrogen urea dalam darah, yaitu zat yang dihasilkan selama pemecahan protein di dalam tubuh dan dikeluarkan oleh ginjal. Tes BUN membantu mengevaluasi kemampuan ginjal untuk membuang zat sisa dari darah.

Kadar BUN

  • Rentang normal untuk orang dewasa adalah sekitar 10-20 mg/dL.
  • Rentang normal untuk anak-anak adalah sekitar 5-18 mg/dL.

Hasil Kadar BUN

Kadar BUN yang meningkat dapat mengindikasikan disfungsi ginjal, seperti penyakit ginjal kronis atau dehidrasi. Di sisi lain, kadar BUN yang rendah dapat menunjukkan kekurangan protein dalam pola makan atau masalah malabsorpsi. Oleh karena itu, pemeriksaan BUN merupakan alat penting untuk memantau dan menilai kesehatan ginjal.

Penyebab BUN Tinggi

Kadar BUN yang tinggi dapat disebabkan oleh pola makan tinggi protein, stres, batu ginjal, atau disfungsi ginjal.

 

Kreatinin

Tes kreatinin adalah tes darah yang digunakan untuk mengevaluasi fungsi ginjal. Kreatinin adalah produk sisa yang dihasilkan oleh aktivitas otot, seperti berjalan atau berlari. Jika kadar kreatinin dalam darah terlalu tinggi atau terlalu rendah, hal ini dapat mengindikasikan disfungsi ginjal.

Kadar Kreatinin

  • Rentang normal untuk pria: 0.73–1.18 mg/dL
  • Rentang normal untuk wanita: 0.55–1.02 mg/dL

Hasil Kadar Kreatinin

Kadar Kreatinin yang rendah dapat menunjukkan penggunaan otot dan saraf yang kurang efisien dalam aktivitas sehari-hari, yang berpotensi menyebabkan atrofi atau penyusutan otot.

Kadar Kreatinin yang tinggi dapat menunjukkan sumbatan saluran kemih, seperti batu ginjal, atau dehidrasi.

Penyebab Kreatinin

Kadar Kreatinin yang rendah dapat disebabkan oleh kehamilan, nutrisi yang tidak memadai atau tidak seimbang, atau berkurangnya fungsi otot dan saraf.

Kadar Kreatinin yang tinggi dapat disebabkan oleh kondisi seperti tekanan darah tinggi, diabetes, obat-obatan tertentu, pola makan tinggi protein sebelum pemeriksaan, infeksi ginjal, pemecahan otot akibat aktivitas berat atau olahraga intens, serta sumbatan saluran kemih.

 

Laju Filtrasi Glomerulus Perkiraan (eGFR)

Tes eGFR (estimated Glomerular Filtration Rate) mengukur laju ginjal menyaring darah per menit. Tes ini merupakan alat diagnostik utama untuk menilai fungsi ginjal dan mengidentifikasi kondisi seperti penyakit ginjal kronis atau gagal ginjal. Nilai eGFR mencerminkan efisiensi ginjal dalam menjalankan fungsi penyaringannya.

Penyebab eGFR

Penurunan fungsi ginjal secara bertahap dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kondisi kesehatan kronis, riwayat keluarga, kebiasaan makan, merokok, penggunaan obat-obatan tertentu, dan faktor gaya hidup.

 

Tes Asam Urat dalam Darah (Asam Urat)

 

Mengapa Tes Asam Urat dalam Darah diperlukan?

Asam urat dihasilkan dari pemecahan purin, yang ditemukan dalam jumlah tinggi pada makanan seperti unggas, jeroan, dan sayuran tertentu. Normalnya, asam urat dikeluarkan melalui urine, tetapi kadar yang meningkat dapat mengindikasikan masalah kesehatan.

Kadar Asam Urat

Kadar asam urat normal dalam darah biasanya hingga 7 mg/dL untuk laki-laki dan perempuan pascamenopause. Untuk perempuan yang masih mengalami menstruasi, kadar asam urat tidak boleh melebihi 6 mg/dL.

Hasil tes asam urat dalam darah

Jika kadar asam urat melebihi rentang normal, hal ini dapat menyebabkan hiperurisemia, yang meningkatkan risiko berkembangnya radang sendi atau gout dan juga dapat meningkatkan risiko batu ginjal.

Penyebab kadar asam urat tinggi

Asam urat diproduksi melalui proses kimia di dalam tubuh selama pembentukan atau perbaikan sel, serta dari konsumsi makanan yang tinggi asam urat, seperti unggas, jeroan, sayuran tertentu, kacang-kacangan, dan beberapa minuman seperti bir dan jus buah yang mengandung fruktosa. Jika tubuh memproduksi terlalu banyak asam urat atau jika ginjal tidak mampu mengeluarkannya dengan baik akibat gangguan fungsi ginjal, asam urat dapat menumpuk di dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan ginjal, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, dan peningkatan risiko kelumpuhan.

 

Liver Function Test

Tes fungsi hati adalah pemeriksaan darah untuk mengukur protein dan enzim yang dapat menandakan kelainan hati. Hasilnya membantu skrining awal adanya infeksi/kerusakan hati, memantau kondisi pasien, serta menilai kemungkinan efek samping obat tertentu.

SGPT (ALT)

ALT adalah enzim yang terutama terdapat di hati; kadar meningkat dapat mengarah pada peradangan atau kerusakan hati.

Nilai normal: 0–45 U/L.

Jika tinggi: mengindikasikan peradangan/kerusakan hati.

Penyebab umum: konsumsi alkohol berlebihan, obesitas/sindrom metabolik, minuman tinggi fruktosa, makanan olahan atau makanan lama/kedaluwarsa.

SGOT (AST)

AST adalah enzim yang dapat meningkat saat organ (terutama hati) mengalami kerusakan; sel hati yang cedera melepaskan lebih banyak AST.

Nilai normal: 5–34 U/L.

Jika tinggi: hati mungkin meradang.

Penyebab umum: alkohol, obesitas (terutama lemak viseral), minuman tinggi fruktosa (penumpukan lemak di hati), makanan olahan atau kedaluwarsa (paparan zat berbahaya).

Gamma GT (GGT)

GGT adalah enzim hati terkait proses detoksifikasi. Kadar sering meningkat pada paparan alkohol berlebih/berkepanjangan. GGT juga membantu menilai sumber peningkatan ALP (mis. hati/saluran empedu). Peningkatan dapat terkait risiko penyakit hati atau gangguan saluran empedu.

Nilai normal:

  • Pria: 12–64 U/L
  • Wanita: 9–36 U/L

Jika tinggi: dapat menandakan kerusakan hati (sering terkait alkohol); bila tanpa alkohol, dapat mengarah pada risiko NAFLD.

Penyebab umum: alkohol berat, diabetes, obesitas, stres, dan NAFLD (penumpukan lemak hati tanpa alkohol).

Alkaline Phosphatase (ALP)

ALP banyak terdapat di hati dan tulang. Pemeriksaan membantu membedakan gangguan hati/saluran empedu vs tulang, dan sering dinilai bersama ALT/AST.

Nilai normal: 40–150 U/L.

Jika tinggi: dapat terkait kelainan hati atau saluran empedu (mis. hepatitis, sirosis, kanker hati, batu empedu, sumbatan saluran empedu) atau masalah tulang.
Jika rendah: lebih jarang; dapat terkait kekurangan nutrisi (mis. celiac) atau defisiensi vitamin/mineral.

Penyebab kadar tidak normal: masalah saluran empedu atau tulang, kekurangan nutrisi, serta kemungkinan lain seperti kanker ginjal, gangguan saluran cerna, penyakit pankreas, atau infeksi berat.

Tes Fungsi Tiroid

 

Tes Hormon Perangsang Tiroid (TSH)

Tes TSH digunakan untuk menilai fungsi kelenjar pituitari, yang mengontrol produksi hormon tiroid. Tes ini membantu menentukan apakah tubuh memiliki kadar hormon tiroid yang memadai. Dengan mengukur kadar TSH, tes ini dapat menunjukkan apakah kelenjar tiroid kurang aktif (hipotiroidisme) atau terlalu aktif (hipertiroidisme).

Kadar TSH

Rentang normal kadar TSH adalah antara 0.350 – 4.940 uIU/mL.

Hasil Kadar TSH

Jika kadar TSH lebih tinggi atau lebih rendah dari normal, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk evaluasi lebih lanjut.

Penyebab Kadar TSH

Kadar TSH yang lebih tinggi dari normal dapat mengindikasikan dua kasus utama :

Kelenjar tiroid memproduksi hormon yang tidak mencukupi, sehingga kelenjar pituitari memproduksi lebih banyak TSH untuk merangsang fungsi tiroid.

Dalam beberapa kasus, kelenjar pituitari dapat berfungsi tidak normal dan memproduksi TSH berlebihan, yang dapat ditemukan pada pasien dengan tumor di area pituitari.

 

T4 Bebas

Tes T4 Bebas mengukur kadar hormon tiroid T4 dalam bentuk bebas, yang tidak terikat pada protein dalam darah. Ini memberikan penilaian yang lebih akurat mengenai jumlah hormon tiroid yang tersedia untuk digunakan oleh tubuh. Tes ini membantu mengevaluasi fungsi tiroid dan menilai risiko atau adanya kekurangan hormon tiroid dengan lebih efektif.

Kadar T4 Bebas

Rentang normal untuk T4 Bebas adalah 0.70 – 1.48 ng/dL.

Hasil Kadar T4 Bebas

Jika kadar T4 Bebas lebih tinggi atau lebih rendah dari normal, penting untuk berkonsultasi dengan spesialis untuk evaluasi dan diagnosis lebih lanjut.

 

T3 Bebas

Tes T3 Bebas mengukur kadar hormon T3 bebas yang tidak terikat dalam aliran darah, memberikan indikasi yang lebih akurat mengenai hormon yang benar-benar tersedia untuk digunakan oleh tubuh. Tes ini berguna untuk mengevaluasi apakah tiroid berfungsi normal, terlalu aktif, atau mengalami disfungsi.

Kadar T3 Bebas

Rentang normal untuk T3 Bebas adalah 1.58 – 3.91 pg/mL.

Hasil Kadar T3 Bebas

Jika kadar T3 Bebas lebih tinggi atau lebih rendah dari rentang normal, disarankan untuk berkonsultasi dengan spesialis untuk evaluasi lebih lanjut.

 

Tumor Markers

Tes tumor marker adalah tes darah untuk mendeteksi zat yang diproduksi sel kanker. Hasilnya membantu menilai adanya kelainan, tetapi perlu dikombinasikan dengan metode skrining/diagnostik lain sesuai jenis kanker agar lebih akurat.

Prostate Specific Antigen (PSA)

PSA mengukur protein yang dibuat sel prostat (normal maupun kanker). Pada kanker prostat, kadar PSA cenderung lebih tinggi.

Kadar PSA

Umumnya normal <4 ng/mL.

Arti hasil PSA

PSA >10 ng/mL meningkatkan risiko kanker prostat.

Penyebab PSA tinggi

Dapat meningkat pada kanker prostat maupun kondisi non-kanker seperti benign prostatic hyperplasia (BPH). Faktor lain: prostatitis, retensi urine, pemasangan kateter, tindakan pada uretra, atau biopsi prostat. PSA tinggi saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis dan perlu pemeriksaan lanjutan.

Carcinoembryonic Antigen (CEA)

CEA adalah antigen yang normalnya diproduksi sel usus dan hati; pada kanker kolorektal sering meningkat.

Kadar CEA

  • Non-perokok: 0,0–5,0 ng/mL
  • Perokok: 0,0–10,0 ng/mL

Arti hasil CEA

CEA >5 ng/mL dapat terkait peningkatan risiko kanker kolorektal, tetapi juga bisa meningkat pada adenokarsinoma lain (lambung, paru, tiroid) atau penyakit inflamasi seperti kolesistitis, sirosis, penyakit ginjal, dan inflammatory bowel disease.

Penyebab CEA tinggi

Kenaikan ringan dapat terjadi pada perokok, kehamilan 6 bulan pertama, atau peradangan pada saluran cerna, paru, atau hati. Kenaikan abnormal lebih sering pada kanker (saluran cerna, pankreas, payudara, paru, ovarium), dan kanker kolorektal sering menunjukkan kadar lebih tinggi.

Alpha-Fetoprotein (AFP)

AFP digunakan untuk mendeteksi kanker hati pada individu berisiko, misalnya sirosis atau infeksi hepatitis B.

Kadar AFP

Pria dan wanita tidak hamil: 0,89–8,78 ng/mL; pada dewasa sehat biasanya <10 ng/mL. Kadar sangat tinggi (mis. >500 ng/mL) memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Arti hasil AFP

AFP meningkat dapat mengarah pada kemungkinan adanya sel kanker hati dan perlu konfirmasi dengan pemeriksaan diagnostik lain.

Penyebab kanker hati

Termasuk sirosis (mis. akibat hepatitis B/C kronis), konsumsi alkohol berlebihan, fatty liver, diabetes, obesitas, serta makanan terkontaminasi. Aflatoksin (sering pada kacang tanah dan bubuk cabai kering) diketahui berperan dalam terjadinya kanker hati.

Urinalisis (Pemeriksaan Urin)

 

Mengapa urinalisis diperlukan?

Urinalisis (UA) adalah pemeriksaan urin yang telah disaring oleh ginjal sebagai limbah dan berbentuk cair. Pemeriksaan ini menilai komponen urin, dimulai dari karakteristik fisiknya, seperti warna, bau, kejernihan, serta komposisi kimia cairan. Pemeriksaan ini juga mengecek adanya zat tidak normal dalam urin, seperti patogen, bakteri, dan virus, yang mungkin telah melewati proses filtrasi.

Daftar Pemeriksaan Urinalisis

    1. Pemeriksaan visual

meliputi warna, bau, dan kejernihan urin.

  1. Pemeriksaan Kimia
    • Berat jenis (Sp.Gr atau SG) mengukur konsentrasi urin dan berkaitan dengan dehidrasi.
    • pH (keasaman atau kebasaan) mengukur keseimbangan urin, yang bergantung pada fungsi internal tubuh dan kebiasaan makan.
    • Protein mengacu pada deteksi protein dalam urin, yang menunjukkan seberapa banyak protein yang bocor melalui proses filtrasi ginjal.
    • Glukosa mengacu pada deteksi glukosa dalam urin, yang menunjukkan kebocoran gula berlebih dari aliran darah ke dalam urin.
    • Keton mengacu pada deteksi badan keton dalam urin, yang terjadi ketika tubuh tidak dapat mengubah gula menjadi energi. Akibatnya, tubuh mulai memecah lemak menjadi keton untuk digunakan sebagai sumber energi alternatif menggantikan gula.
    • Nitrit mengacu pada deteksi infeksi saluran kemih (ISK), yang dapat memengaruhi ginjal, kandung kemih, atau bagian lain dari sistem saluran kemih.
    • Bilirubin mengacu pada adanya empedu dalam urin, yang memberi warna kuning pada cairan limbah. Intensitas warna bergantung pada ada tidaknya sumbatan pada saluran empedu di hati.
    • Urobilinogen mengacu pada kondisi yang disebabkan oleh peradangan sel hati atau sumbatan pada saluran empedu, yang dapat terdeteksi dalam urin.
    • Leukosit (sel darah putih) dalam urin mengindikasikan peradangan pada saluran kemih.
    • Eritrosit (sel darah merah) dalam urin mengindikasikan cedera pada saluran kemih atau kerusakan organ internal.
  2. Pemeriksaan Mikroskopis
    • Sel darah putih (WBC)
    • Sel darah merah (RBC)
    • Bakteri, ragi, parasit
    • Silinder (casts)
    • Kristal

Kadar Urinalisis

Berat jenis atau konsentrasi rata-rata zat dalam urin dapat menunjukkan apakah tubuh terhidrasi dengan baik. Pada tubuh yang sehat, berat jenis biasanya berkisar antara 1.003 hingga 1.030

Hasil Kadar Urinalisis

Jika hasil pemeriksaan berat jenis menunjukkan nilai yang terlalu tinggi, hal ini mengindikasikan dehidrasi atau asupan air yang tidak mencukupi. Sebaliknya, jika nilainya secara konsisten berada di bawah 1.005 pada waktu mana pun dalam sehari, hal ini dapat mengindikasikan gangguan fungsi ginjal dalam mengatur konsentrasi urin.

 

Pemeriksaan Feses (Pemeriksaan Feses dan Darah Samar)

 

Mengapa pemeriksaan feses diperlukan?

Pemeriksaan feses adalah analisis yang dilakukan untuk menilai kesehatan sistem pencernaan, termasuk mengidentifikasi kelainan pada feses seperti infeksi bakteri, parasit, atau virus. Pemeriksaan ini juga membantu mendeteksi perdarahan gastrointestinal, yang dapat disebabkan oleh kondisi seperti tukak lambung atau kanker usus besar. Selain itu, pemeriksaan feses digunakan untuk mengevaluasi efisiensi penyerapan nutrisi dalam tubuh.

 

Skrining Kanker Serviks (Sitologi Berbasis Cairan)

 

Mengapa skrining kanker serviks diperlukan?

Skrining kanker serviks menggunakan Sitologi Berbasis Cairan (Liquid Based Cytology/LBC) adalah metode yang digunakan untuk mendeteksi kelainan pada sel-sel serviks. Dalam metode ini, sel-sel yang dikumpulkan dicuci dan diproses dalam larutan sebelum pemeriksaan, sehingga memungkinkan deteksi sel abnormal yang lebih jelas. Selain itu, LBC membantu mengurangi risiko infeksi atau kontaminasi dari zat asing, sehingga menghasilkan hasil pemeriksaan yang lebih akurat dan efektif.

 

Kelompok Pemeriksaan Sinar-X

 

Mengapa skrining radiologi diperlukan?

Skrining radiologi, atau pemeriksaan sinar-X, adalah prosedur diagnostik yang menggunakan sinar-X untuk melihat struktur internal tubuh, seperti tulang dan organ. Jenis skrining ini membantu mendeteksi kelainan, seperti patah tulang, infeksi, atau pertumbuhan tumor, dengan memberikan gambaran detail tentang kondisi internal tubuh.

 

Rontgen Dada (CXR)

Rontgen Dada (CXR) adalah prosedur diagnostik yang menggunakan sinar-X untuk memeriksa area dada, terutama untuk skrining dan mendeteksi kelainan pada sistem pernapasan. Pemeriksaan ini membantu mengidentifikasi masalah terkait paru-paru, seperti menemukan nodul atau massa pada jaringan paru, mendeteksi kelainan pada pleura dan pembuluh darah paru, serta menilai organ-organ di sekitar dalam rongga toraks.

 

USG Seluruh Abdomen

Diagnosis ultrasonografi menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi yang menghasilkan gambar untuk memeriksa berbagai organ. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi kelainan tertentu dan mendukung diagnosis dokter. USG abdomen bersifat non-invasif, tidak menimbulkan nyeri, dan aman. Pemeriksaan ini umum digunakan untuk mendeteksi masalah awal seperti batu ginjal, batu empedu, dan massa hati, serta memberikan informasi penting untuk perencanaan terapi atau pemantauan perawatan di masa mendatang.

 

Densitometri Tulang (Lumbal-Hip)

Densitometri tulang (Lumbal-Hip) adalah tes yang digunakan untuk mengukur kepadatan mineral tulang pada tulang belakang bagian bawah (lumbal) dan panggul. Area-area ini sangat berisiko mengalami fraktur akibat osteoporosis. Tes ini membantu menilai kekuatan tulang dan mengidentifikasi individu yang berisiko mengalami patah tulang, sehingga dapat mengarahkan tindakan pencegahan atau terapi untuk menjaga kesehatan tulang.

Tingkat Densitometri Tulang

Evaluasi Kondisi Osteoporosis Menggunakan T-Score :

  • T-Score di atas -1 = Kepadatan tulang normal (Tulang normal)
  • T-Score antara -1 dan -2,5 = Massa tulang rendah atau osteopenia
  • T-Score di bawah -2,5 = Osteoporosis

 

Mammogram Digital dengan USG Payudara Kedua Sisi

Mammogram Digital dengan USG Payudara Kedua Sisi merupakan pemeriksaan penting untuk mendeteksi kelainan pada payudara. Pemeriksaan ini membantu deteksi dini kanker payudara, bahkan sebelum gejala muncul, serta juga mengurangi risiko yang terkait dengan paparan radiasi.

 

Kelompok Pemeriksaan Kardiovaskular

 

Mengapa perlu memeriksa jantung dan pembuluh darah?

Pemeriksaan kardiovaskular penting karena membantu menilai kesehatan jantung dan pembuluh darah. Pemeriksaan ini juga membantu mendeteksi risiko atau penyakit yang terkait dengan sistem kardiovaskular pada tahap awal.

 

Tes Latihan Beban (EST)

Tes Treadmill adalah tes kebugaran kardiovaskular yang dimulai dengan memasang elektroda pada dada, lengan, dan tungkai (total 10 titik) untuk merekam aktivitas listrik jantung dan denyut nadi. Manset tekanan darah dipasang pada lengan atas untuk memantau tekanan darah selama tes. Seorang teknisi kardiologi mengawasi tes, yang dilakukan di bawah bimbingan dokter spesialis jantung untuk memastikan keselamatan dan akurasi penilaian.

 

Elektrokardiografi (EKG)

Elektrokardiografi (EKG) adalah tes yang mendeteksi sinyal listrik yang dihasilkan oleh jantung pada setiap denyut, atau saat kontraksi dan relaksasi jantung. Tes ini membantu mengidentifikasi kelainan yang dapat mengindikasikan masalah jantung. EKG dapat digunakan untuk mendiagnosis berbagai kondisi seperti aritmia, risiko gagal jantung, tekanan darah tinggi, atau untuk mengidentifikasi penyebab nyeri dada. Tes ini juga digunakan untuk menilai kondisi jantung pasien yang sedang mengonsumsi obat-obatan yang dapat memengaruhi jantung.

 

Indeks Ankle-Brachial (ABI)

Pengukuran Indeks Ankle-Brachial (ABI) digunakan untuk menilai kondisi sumbatan arteri dan elastisitas pembuluh darah. Tes ini dapat membantu mendiagnosis penyakit arteri perifer (PAD) pada tungkai pada tahap awal. Selain itu, tes ini berfungsi sebagai pemeriksaan awal yang dapat mengarah pada deteksi kondisi serius lainnya, seperti penyakit arteri koroner dan penyakit serebrovaskular. Tes ini juga membantu menilai risiko penyakit kardiovaskular dan kondisi jantung di masa depan, serta digunakan untuk mengevaluasi tingkat keparahan penyempitan arteri.

 

Doppler Karotis

Doppler Karotis adalah metode yang digunakan untuk memeriksa arteri besar di leher yang memasok darah ke otak. Tes ini sangat penting untuk menilai risiko kondisi seperti stroke, kelumpuhan, dan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer. Doppler Karotis membantu dokter mendeteksi tanda awal penyempitan atau sumbatan arteri pada pembuluh yang menuju otak, sehingga memungkinkan intervensi dini dan penilaian risiko penyakit terkait.

 

Vitamin D

 

Mengapa perlu memeriksa Vitamin D?

Pemeriksaan kadar Vitamin D penting untuk berbagai aspek pengelolaan kesehatan karena Vitamin D berperan krusial dalam mengatur beberapa sistem tubuh. Vitamin D membantu memperkuat tulang dan gigi, mencegah osteoporosis, mendukung sistem kekebalan tubuh, serta membantu melindungi dari penyakit kronis.

Kadar Vitamin D

  • Kadar 25(OH)D di bawah 20 ng/mL: Menunjukkan defisiensi Vitamin D.
  • Kadar 25(OH)D antara 20-30 ng/mL: Menunjukkan insufisiensi Vitamin D.
  • Kadar 25(OH)D di atas 30 ng/mL: Menunjukkan kadar Vitamin D yang memadai.

Penyebab Kadar Vitamin D

Penyebab defisiensi Vitamin D dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti paparan sinar matahari yang tidak mencukupi, asupan makanan kaya Vitamin D yang tidak memadai, masalah penyerapan pencernaan, penuaan, penyakit hati dan ginjal, serta obesitas.

 

Vitamin B12

 

Mengapa perlu memeriksa Vitamin B12?

Pemeriksaan kadar Vitamin B12 penting karena Vitamin B12 berperan penting dalam berbagai fungsi tubuh, terutama pada sistem saraf dan produksi sel darah merah. Alasan untuk memeriksa kadar Vitamin B12 meliputi pencegahan anemia, perlindungan terhadap penurunan fungsi kognitif dan masalah memori, penilaian risiko pada individu dengan gangguan malabsorpsi, serta pemantauan individu yang berisiko mengalami defisiensi Vitamin B12.

Kadar Vitamin B12

  • Anak usia 1-3 tahun: 0,9 mikrogram/hari
  • Anak usia 4-8 tahun: 1,2 mikrogram/hari
  • Remaja usia 9-12 tahun: 1,8 mikrogram/hari 
  • Remaja usia 13-18 tahun: 2,4 mikrogram/hari
  • Dewasa (usia 19-71 tahun): 2,4 mikrogram/hari

Penyebab Kadar Vitamin B12

Penyebab defisiensi Vitamin B12 dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti asupan makanan kaya Vitamin B12 yang tidak memadai, masalah malabsorpsi pada sistem pencernaan, penuaan, penggunaan obat-obatan tertentu, konsumsi alkohol, dan kondisi seperti Anemia Pernisiosa. Anemia Pernisiosa adalah kondisi ketika tubuh tidak dapat memproduksi suatu zat yang disebut faktor intrinsik di lambung, yang penting untuk penyerapan Vitamin B12.