Pemeriksaan Kanker
Kanker paru-paru adalah penyebab kematian kedua terbesar dan penyebab kematian utama akibat kanker di Thailand. Sebagian besar kanker paru-paru didiagnosis pada stadium lanjut, sehingga pengobatan menjadi lebih rumit dan mengakibatkan penurunan angka harapan hidup secara keseluruhan yang signifikan. Di masa lalu, skrining kanker paru-paru dilakukan dengan rontgen dada dan sitologi dahak. Namun, metode skrining ini tidak meningkatkan deteksi dini pasien kanker paru-paru, karena nodul kecil (subsolid nodule/ground glass nodule) tidak dapat terdeteksi.
Pada tahun 2011, National Lung Screening Trial (NLST) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa penggunaan CT-scan dada dosis rendah merupakan metode skrining yang efektif pada orang yang berisiko tinggi terkena kanker paru-paru dibandingkan dengan rontgen dada. Dengan melakukan skrining setahun sekali, angka kematian berkurang hingga 20%. Oleh karena itu, saat ini National Comprehensive Cancer Network (NCCN), American Society of Clinical Oncology (ASCO), dan American College of Chest Physicians (ACCP) merekomendasikan skrining kanker paru-paru pada populasi berisiko tinggi dengan menggunakan CT-scan dada dosis rendah.

Kelompok berisiko tinggi didefinisikan sebagai:
- Usia 55-74 tahun
- Perokok aktif atau mantan perokok:
Anda dapat mempertimbangkan pemeriksaan kanker paru-paru jika Anda memiliki riwayat merokok selama 30 pack years atau lebih. Pack years dihitung dengan mengalikan jumlah bungkus rokok yang dihisap per hari dengan jumlah tahun Anda merokok.- Merokok dua bungkus sehari selama 15 tahun.
- Merokok satu bungkus sehari selama 30 tahun.
- Merokok satu setengah bungkus sehari selama 20 tahun.
- Berhenti merokok kurang dari 15 tahun
Terdapat faktor risiko lainnya seperti yang tertera di bawah ini:
- Usia
- Seks
- Etnis
- Berat dan tinggi badan
- Pendidikan
- Riwayat keluarga menderita kanker paru-paru, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan kanker lainnya.









